Bab 5
Sam sangat terguncang dengan insiden itu.
Dia nyaris tak ingat bagaimana perjalanan pulangnya hari itu: ke laut, daerah pembangunan, memasuki kota, hingga kembali ke kabin. Hanya memori samar-samar tentang Ak menyeretnya melalui itu semua.
Selama hari-hari ke depan, bahkan ayahnya yang sibuk segera menyadari ada yang salah dengan Sam. Tetapi tak ada yang bisa dilakukannya, bahkan Ak tutup mulut soal kejadian itu.
Begitu hanya tinggal mereka berdua, Sam sibuk berpikir, mencoba mengira-ngira apa yang sebetulnya terjadi di fasilitas penelitian. Untuk apa tempat itu dan kenapa fasilitas kota tampaknya sama sekali tak tahu soal itu? Apa gunanya cairan ungu yang disimpan di situ dan kenapa mereka tak ada di tempat lain? Siapa si Sosok Bertudung, Vae, dan orang yang datang menyelamatkannya itu? Tapi semuanya berlalu tak terjawab. Ak mencoba meretas data-data kota demi mendapatkan informasi, tapi dia antara gagal menerobos masuk atau mendapatkan data tak penting yang tak menjawab apapun. Satu hal yang jelas, kota Ir’Au punya lebih banyak rahasia dibanding sekedar kota dibawah laut.
Bicara soal Ak, robot itu menghabiskan banyak waktu mencoba mencari-tahu lebih banyak soal lensa barunya. Selama Ak berada di kabin, Sam selalu dikejutkan dengan Ak yang sedang mengambil kendali mesin cuci, televisi, bahkan sekali sepenuhnya mengendalikan seluruh sistem kabin: membuka-tutup pintu, menyala-matikan lampu, dan memata-matai Sam lewat kamera keamanan. Sam terbangun suatu malam dan menyangka dia masih terjebak dalam mimpi buruk saat lampu berkedip-kedip sendiri, kamera keamanan terpaku menatapnya, dan seisi kabin bergerak tanpa perintah.
Meski begitu, Sam dan Ak mencoba memastikan semuanya tampak normal saat ayah pulang. Bahkan dengan segala kekacauan di kabin, mereka tetap bisa melihat ayah terlihat semakin kelelahan dari hari ke hari: janggut dan kumis yang mulai tumbuh berantakan, matanya yang hitam kurang tidur, hingga mukanya yang kian pucat seperti ikan laut dalam yang jadi menu utama makanan kota Ir’Au.
Ayah jadi lebih jarang pulang, sering bermalam di laboratorium. Bahkan saat di kabin sekalipun, biasanya dia segera menjatuhkan diri ke kasur dan mendengkur; dan baik Sam maupun Ak tak sampai hati membangunkannya. Seiring waktu, Ak juga kembali ikut dengan ayah, semakin lama semakin sering; meninggalkan Sam sendirian di kabin.
Dua minggu setelah insiden fasilitas penelitian, dan Ak sudah sepenuhnya menemani ayahnya. Sam, lagi-lagi, tinggal sendirian di kabin. Lama kelamaan, semua kembali jadi rutinitas normal dan insiden Sosok Berjubah waktu itu tampak seperti mimpi aneh yang jauh, sangat jauh dari kenyataan. Kalau bukan karena Ak yang mengkonfirmasi bahwa, ya, kejadian waktu itu memang nyata; kemungkinan besar Sam sudah akan menyangka kalau itu hanya khayalan gilanya yang muncul karena bosan terjebak di kehidupan baru monoton itu.
***
“-karena itu, proyek itu dinyatakan resmi dimulai pada 2097, ketika desain mesin milik Pabrik XI sudah disetujui oleh pihak penelitian. Meski begitu, proses pembuatan terhambat oleh para aktivis dan organisasi PLA yang tak setuju dengan keseluruhan proyek ini; sehingga membentuk undang-undang Pelestarian Luar Angkasa ke-4 yang menyatakan kalau-”
Suara si robot pengajar lambat-laun membuat mata Sam terasa memberat dan kepalanya mulai terantuk-antuk, sebelum Sam tersentak dan menggelengkan kepala, berusaha tetap terjaga; hanya sebelum kantuk kembali datang, memulai kembali siklus yang sama.
Si robot pengajar, tapi, tampaknya tak tahu ataupun peduli tentang kondisi muridnya. Matanya, yang tergambar di layar mukanya, tak dibuat untuk itu. Tubuhnya persegi besar, mirip dengan tempat sampah dari besi dengan dua tangan di sampingnya, berkilau pudar terkena cahaya lampu.
Ini hanya satu hari lain bagi Sam dan robot itu, yang sekarang terjebak dengan satu sama lain demi menjejalkan mata pelajaran paling menarik di dunia ke kepala Sam: sejarah. Hore! Sam, meskipun begitu, hanya duduk dengan kepala bertumpu dengan tangan, setiap kata yang dia dengar sama jelasnya seperti status kewarasannya sendiri.
Bicara soal kewarasan, si robot pengawas tiba-tiba memekikan rentetan kata dan angka yang tak jelas seperti orang gila, matanya berkedap-kedip liar, sebelum terpuruk, mati.
Sam, terlonjak bangun, menatap ke arah robot itu. Apa yang terjadi? Apa robot itu sadar soal betapa membosankan kehidupannya selama ini dan memutuskan untuk bunuh diri? Semoga saja, walau Sam agak sedih kehidupan robot itu harus berakhir begini, tepat saat dia sadar betapa banyak hal yang bisa dia raih dalam kehidupannya.
“S-S-Sam.” Suara si robot menyentakan Sam kembali ke kenyataan. Suara itu. Itu suara Ak, dan untuk pertama kalinya bagi Sam, dia terdengar ketakutan. “Ka-antor a-ayahmu. K-kutandai- lokasinya d- helmmu.” Suaranya timbul-tenggelam, juga tertutup dengungan mesin yang terus muncul “Segera-a datan-. Ri’- Ayahmu- bahaya-”
Suara Ak tertutup oleh desing statis, sebelum mata si robot kembali menyala.
“Maaf, kendala teknis.” Suaranya berubah kembali jadi si robot pengajar, melanjutkan dengan datar seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi. Seperti yang sudah kita bahas, undang-undang itu menyatakan kalau luar angkasa merupakan wilayah putih yang tidak bisa dikuasai oleh pihak manapun dalam kondisi apapun. Meskipun begitu-”
“Tunggu sebentar!” Sam menyela, nyaris menerjang maju. Tak bisa. Pesan Ak tak bisa terpotong begitu saja. “Hubungkan dengan Ak lagi!”
“Maaf?”
“Eh- lakukan apapun yang kau lakukan tadi! Yang kau bilang ‘kendala teknis’, itu; bisa kau coba lakukan lagi?”
“Fenomena tadi-” Si robot menjawab. “sepertinya terjadi karena suatu sinyal salah arah ditangkap oleh sistem milikku dan cukup kuat untuk mengambil alih sistem untuk sementara. Sayangnya, aku tak mampu mengatur kemunculan fenomena ini.” Si robot mendesiskan asap putih kecil keluar mesin (yang, sepertinya, sama seperti batuk manusia) dan bersiap untuk kembali melanjutkan.
“Meskipun begitu, BPA dan pabrik XI berdalih kalau proyek ini akan menguntungkan semua pihak manusia, alhasil seharusnya mendapatkan pengecualian-”
“Tidak, tidak, tidak!” Sam memukul meja, menahan diri untuk tak melakukan hal yang sama ke robot di depannya. “Itu bukan ‘sinyal salah arah’, itu pesan dari Ak! Tolong-”
“Sayangnya,” Si robot mengulang lebih lambat, seakan Sam itu semacam idiot yang tak bisa memahami perkataannya “aku tak mampu mengatur kemunculan fenomena tadi.” Dengan itu, si robot pengawas tak menghiraukan lagi perkataan Sam yang terkait soal pesan Ak tadi, memutuskan untuk melanjutkan pelajarannya. Sam sendiri setengah mati menahan diri untuk tak menghantam kepala si robot dengan helmnya, sementara matanya berair dan dia berjuang untuk mengatur nafasnya. Ada apa dengan Ak dan ayahnya? Apa Sosok Bertudung datang mencarinya?
Waktu terasa berjalan terlalu lambat. Begitu si robot pengajar menutup pelajaran hari itu, Sam segera menyambar seluruh setelan bawah laut dan menerobos keluar kabin bahkan sebelum si robot pelajar pergi.
Sam melesat menembus keramaian kota IrAu. Benar, ada penanda arah di helmnya, menunjukan kemana dia harus pergi. Suara langkahnya beradu dengan seruan orang-orang yang dia tak sengaja tabrak sementara dia menyeberangi lorong demi lorong. Kakinya terserimpet bajunya sendiri, membuat Sam jatuh menghantam lantai. Seisi dunia berubah jadi gelap sementara Sam mencoba berdiri, mengabaikan rasa sakit dan orang-orang yang segera menghampirinya untuk membantu.
Entah bagaimana, Sam berhasil kabur tanpa orang-orang menginterogasinya atau robot keamanan keburu didatangkan untuk mengamankannya atas tindakannya mengacaukan ketenangan bersama. Tangan kanannya berdenyut-denyut nyeri, tapi Sam memaksa diri untuk melanjutkan. Hingga akhirnya, dia sampai di lorong tabung yang terbuat dari kaca, mengarahkannya ke bangunan khusus untuk laboratorium.
Sam hanya pernah mendatangi tempat ini sekali, saat mereka baru pertama tiba di kota Ir’Au. Tapi meskipun begitu, dia tahu apa yang bisa dia harapkan: satu-dua robot keamanan yang berjaga, plus kamera pengawas; dan pintu yang hanya bisa diakses oleh para ilmuwan. Seharusnya identitasnya sebagai anak Ri’ mencukupi.
Seluruh harapannya dihancurkan begitu dia melihat pintu laboratorium. Orang-orang yang berseragam seperti ayahnya berdesak-desakan menatap pintu, sementara robot-robot keamanan kota dalam jumlah banyak berjaga di depan pintu, mengawasi para ilmuwan yang hendak masuk.
“Ada apa ini?” Sam mendengar salah satu ilmuwan bertanya. “Kecelakaan.” si robot penjaga menjawab. “Tampaknya terjadi ledakan gas yang terjadi karena eksperimen salah kaprah. Tim penyelamat sedang bertugas mengevakuasi unit yang masih ada di dalam. Hingga situasi terkendali, harap menunggu.”
N-negatif. Suara yang familier terdengar memasuki helm Sam. Bu-ukan itu yang terjadi.
“Ak?” Sam berbisik, menahan diri untuk tak melompat gembira. Setidaknya temannya yang satu ini masih cukup utuh untuk mampu menghubunginya. Gelombang kekhawatiran segera menutupi rasa senangnya. “Ada apa? Apa yang terjadi?”
Ri’ di-i-i Suara Ak segera tertutup desis statis. Sam nyaris memukul tembok saking marahnya: Ak tak bisa hanya mengucapkan nama ayahnya tapi segera memotong ucapannya!
Untungnya, suara Ak segera masuk lagi. Sam, ja-ringan k-komunik-kasi kita tak st-tabil. Temui aku di dalam dul-u, baru kita bicara-a.
“Bagaimana caranya?” Sam mendesis frustasi. “Pintu luar dijaga- aku tak bisa menerobos masuk!”
Ak terdiam. Setelah beberapa lama, suaranya kembali terdengar. Masuk-k ke pintu tengah, k-atakan ke robot pengawas kalau kau penyelidik dari pusat yang d-di-dikirim untuk menginvestigasi insiden ini. Buat identitas samaran. Mereka akan percaya-a.
“Hah?”
Percaya padaku.
“Ak, ini tak mungkin-kau sudah gila- Ak!” Terlambat, hubungannya sudah terlanjur terputus. Sam tertinggal di depan, terpaksa gigit jari dengan seluruh situasi. (Ini, tentu saja, adalah metafora. Tak ada cara bagi jari Sam untuk bisa masuk ke dalam helm.)
Sam termenung sejenak. Bah, terserahlah. Sam tak bisa memikirkan ide yang kurang absurd dibanding saran Ak tadi. Dia tak bisa meledakan seisi ruangan seperti si Penyelamat dan menerobos masuk, itu tak mungkin dan dia akan dicap sebagai teroris. Dia tak bisa menyelinap tak terlihat seperti semacam agen rahasia; kenyataan pahitnya dia cuma anak berumur 13 tahun yang kebetulan terjebak dalam segala kekacauan ini.
Menarik nafas panjang, Sam melangkah menuju kerumunan. Dia memastikan cara jalannya mencerminkan petugas-petugas dari pusat kota seperti yang sering dia lihat; panjang dan tergesa-gesa, dengan punggung tegak dan kepercayaan diri menembus langit ketujuh (yang susah dilakukannya untuk saat ini, mengingat dia mencoba rencana paling tak masuk akal yang pernah dia dengar.)
“Permisi, permisi!” Sam melangkah, menyibak kerumunan. “Maaf, ini petugas dari pusat; tolong beri jalan!”
Kerumunan tampak agak heran, tapi tetap membukakan jalan. Sam segera menghadap para robot penjaga, semua menatapnya dengan tajam. Dari dekat, Sam sadar betapa tinggi menjulangnya mereka, bagaimana baja perak mereka berkilau memantulkan cahaya, dan betapa mudahnya mereka memingsankan dirinya tanpa senjata sekalipun jika diperlukan.
“Namaku, eh- Samsudin. Pusat menerima laporan kalau ada kecelakaan di ruangan ini.” Sam berkata cepat dan mantap, walau seisi pikirannya menyumpahi dirinya sendiri untuk melakukan rencana bunuh diri ini. Dia juga segera sadar bahwa meski mukanya tertutup helm, suaranya tetap terdengar terlalu tinggi untuk menjadi petugas dewasa yang meyakinkan “Aku dikirim untuk memeriksa kerusakan di lapangan.”
“Petugas pusat yang juga seorang anak-anak?” Sam mendengar suara seseorang di tengah kerumunan bertanya dengan nada mengejek.
“Aku anggota Pegawai Masa Depan Kota IrAu; kelompok magang anak-anak pegawai yang sudah dilatih dari dini.” Sam berceloteh panik, mengarang cerita sambil jalan. Dia segera mendengar para kerumunan kasak-kusuk, saling bertanya pada satu sama lain soal PMDKA dan ungkapan kalau mereka belum pernah mendengar itu. “Baru dibuat.” Sam menambahkan, untuk mengurangi kecurigaan. Secara teknis dia tak berbohong untuk yang satu ini: PMDKA memang baru saja dibuat. Baru hitungan detik, malah.
Para robot penjaga menatapnya dengan tatapan menusuk. Mereka masih berdiri kaku, belum bergeser minggir ataupun bergerak maju dan meringkusnya. Sementara itu, di balik helm, keringat mengucur deras di dahi Sam dan jantungnya berdetak tak karuan. Satu tengok ke data pusat dan dia akan dilempar keluar. Apa lebih baik dia kabur saja, mumpung ada waktu-? Tidak, tidak, tidak, sudah kepalang tanggung. Tapi- tidak- tapi-
Izin diberikan. Silahkan masuk, Samsudin. Suara salah satu robot menyentakan Sam dan dia nyaris tak berhasil menahan sebuah “Hah?” keluar dari mulutnya- apa-apaan ini? PMDKA memang kebetulan ada dan kebetulan saja ada anggota bernama Samsudin yang kebetulan ditugaskan ke sini juga?
Sam membuang semua pemikirannya jauh-jauh dan melangkah masuk; toh yang penting dia bisa masuk. Meski begitu, langkahnya segera terpotong oleh ucapan salah satu robot: Demi keamanan, salah satu dari kami akan ikut mengawal Anda.
Sam menatap ke mereka. Sebelum dia sempat memproses, salah satu robot melangkah keluar, berdiri tepat di belakangnya. Silahkan lanjutkan perjalanan Anda, tuan Samsudin.
“Oke…” Sam berpaling, kembali melangkah memasuki gerbang. Apa mereka sadar ada yang aneh dan memutuskan untuk mengawasinya? Atau ini memang prosedur biasa? Bagaimanapun juga, kekhawatiran mulai menggayut di belakang kepala Sam.
Meski begitu, segala kekhawatiran langsung mewujud begitu mereka jauh memasuki lorong lab, meninggalkan kerumunan di belakang, dengan dua kata.
Improvisasi, bagus. Si robot berkata, tapi tidak dengan suara khas robot penjaga yang berat. Walau analisa suara akan langsung mengetahui kalau kau berbohong, itu bukan percobaan pertama yang buruk.
“Ak!” Sam nyaris berteriak, berhenti melangkah. “Kenapa- bagaimana-”
Kau ingat lensa waktu itu, bukan? Ternyata itu cukup kuat untuk meretas banyak sistem, begitu aku terbiasa dengannya. Lagipula, sistem robot ini lebih mudah ditembus dibandingkan robot di fasilitas penelitian waktu itu, jadi aku retas mereka semua dan memungkinkan kamu untuk masuk.
Sam mencerna ucapan Ak, tapi pikirannya segera teralih. “Apa yang terjadi? Bagaimana dengan ayah?”
Ak, yang menakutkan, terdiam. Entahlah, Sam; hampir seluruh memori jangka pendek milikku tak bisa kuakses. Ayahmu dibawa oleh mereka, itu aku ingat.
“Siapa ‘mereka’?”
Petugas kota. Tapi aku berusaha mencegahnya, dan-entah. Aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu. Pokoknya, aku baru ingat saat mengontakmu di gerbang depan.
“Kau tak ingat mengirimkan pesan ke aku saat di kabin?” Sam bertanya.
Samar-samar.
Sam terdiam, tak tahu harus berkata apa. Dia mengamati keadaan di sekitar: lorong dengan rak-rak yang penuh dengan berbagai sampel, papan tulis dengan coretan-coretan yang tak Sam pahami, sekali-sekali meja dengan tabung labu di atasnya. Pintu baja dengan label ‘Ruang Eksperimen ke-X” bertebaran dimana-mana.
“Jadi, kita kemana sekarang?”
Kembali ke tubuhku. Di sana kita buat rencana soal langkah kita berikutnya.
“Tak bisakah tubuhmu yang kesini saja?”
Tidak, jalan ke sini terlalu- AWAS, Sam!
Sam menoleh untuk melihat sesuatu yang gelap menerjang ke arahnya. Sebelum dia sampai, suara benturan baja terdengar nyaring dan sosok itu terpental mundur: robot Ak meninju sosok itu.
Sam berhasil melihat dengan lebih jelas apa itu: kepala kotak dengan lensa merah, postur bungkuk, dan bilah di tangan. Unit robot dari fasilitas penelitian; simbol hidup tentang mimpi buruk Sam waktu itu.
Robot itu segera bangkit kembali, lensanya terpaku pada Ak. Bilahnya mengayun ke arah Ak, dan bunyi besi berderit terdengar nyaring di udara, menyakitkan telinga. Bilahnya mencoba menyabet tubuh Ak, tapi lempengan baja Ak terlalu tebal untuk ditembus.
Ak segera mengeluarkan sebuah taser dari tangannya, menusuk lensa mata robot itu. Percik listrik memancar kemana-mana sementara si robot itu mengeluarkan gerung berat, sebelum bergetar, mati. Ak segera melemparnya jauh-jauh. Meski begitu, sistemnya segera aktif kembali: robot pengawas yang sedang dikendalikan Ak didesain untuk menghadapi kriminal manusia yang mudah dirobohkan, bukan robot besar seperti ini.
Kabar buruk berikutnya, dentang langkah kaki yang berat terdengar dari ujung lorong. Segera saja, robot yang sama menyeruak dari kegelapan, berlari dengan kecepatan penuh ke arahnya.
Ak disibukan dengan robot pertama, dia tak bisa membantu kali ini. Sementara itu, si robot baru sudah menerjang; bilah di tangannya berkilat, siap menusuk.
Sam refleks melompat ke samping dalam upayanya menghindar. Kepalanya menghantam meja tanpa ampun, membuat penglihatan Sam mulai mengabur dan berkunang-kunang. Begitu sadar, Sam melihat si robot berdiri menjulang, siap memotongnya jadi dua. Dia geragapan menggapai meja dalam upaya menaikinya, tak sengaja menggulingkan meja itu. Sam dan berbagai barang di atas meja segera jatuh menghujani lantai, memenuhi ruangan dengan bunyi buku & meja berdebam jatuh disertai tabung pecah.
Dengan bunyi krak keras, meja itu terbelah jadi dua; potongannya terpental kemana-mana. Si robot segera berdiri, mengibaskan bilahnya secara membabi-buta ke arah Sam yang tak lagi terlindung sekarang. Anak itu mati-matian merayap mundur, melemparkan buku tua dan apapun yang dia temukan tercecer di lantai ke arah robot itu. Semuanya memantul tak berguna, hingga kepala Sam mengenai tembok: dia tak punya ruang untuk mundur lagi sekarang.
Dengan kilatan mata kemenangan, si robot mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seperti sengaja memamerkan bilahnya di detik-detik terakhir korbannya. Sebelum bilah itu mengayun turun, tapi, sesuatu yang besar melesat dari seberang ruangan, menghantam telak si robot pertama. Suaranya bergetar di seluruh ruangan saat si robot itu terhempas ke dinding, lensanya berkedip-kedip rusak.
Begitu debu menipis, Sam bisa melihat dengan lebih jelas apa yang menghantam robot itu: temannya yang satu lagi, ikut terbaring lunglai. Sam melihat ke belakang dan melihat Ak berjalan untuk bergabung dengannya. Pelat bajanya penuh goresan yang dalam dan tangan kanannya putus, menyisakan uraian kabel yang masih mengeluarkan percikan api. Meskipun begitu, diluar itu semua Ak tampak baik-baik saja.
Yang tak baik-baik saja, tapi, adalah fakta kalau kedua robot itu mulai kembali berdiri. Tubuh mereka dua-duanya penuh lecet dan babak-belur, tapi tampaknya itu tak mengurangi keinginan mereka untuk mencincang habis Sam dan Ak. Yang ada, mereka tampaknya malah makin bersemangat untuk melakukannya.
Sesuatu melesat dengan cepat ke depan. Tapi itu bukan para robot penjaga, itu Ak. Dengan tangannya yang masih utuh, Ak meninju salah satu robot tanpa ampun. Robot itu tak menyangka akan diserang frontal seperti itu, terpelanting jatuh. Temannya membalas, menghantam bahu Ak. Sia-sia, bilahnya sekali lagi tertahan. Sementara si robot mencoba menarik bilahnya kembali, Ak menghantamkan kepalanya ke arah lawannya. Bunyi besi menghantam besi sekali lagi memenuhi lorong-lorong sementara para raksasa kembali bergulat.
Di tengah segala kekacauan itu, penanda lokasi kembali muncul di layar helm Sam. Pergi ke sana, Sam. Suara Ak terdengar di helm Sam, tetap tenang seperti biasa. Aku urus dulu dua unit ini.
Sam memandang lorong-lorong gelap yang membentang, lalu kembali lagi ke kekacauan di depannya. Tak ada pilihan lagi, Sam tak banyak membantu disini. Lagipula, Ak juga tak terancam: dia tak sedang menaiki tubuh aslinya.
Cepat, Sam. Aku akan bertemu denganmu disana. Sam mengangguk. Tanpa memandang ke belakang, Sam segera mengambil langkah seribu, meninggalkan ruangan itu. Di belakang, suara sirine terdengar saat kedua robot sadar Sam sudah kabur. Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan, Ak menghalangi jalan mereka.
Lorong-lorong mengabur sementara Sam melesat melalui ruangan demi ruangan. Penanda di helmnya terus menyala, membuatnya tak perlu khawatir soal salah jalan. Suara besi berdentang terdengar semakin pudar semakin jauh dia berjalan, menyisakan suara langkahnya.
Sendirian, dalam gelap, imajinasi Sam ikut berlari liar bersamanya. Setiap pojok gelap terasa bisa mengandung robot lain yang bisa segera melumpuhkannya. Tabung berisi cairan berwarna-warni, bagian robot setengah jadi yang sedang dirakit, semuanya mengingatkannya soal fasilitas penelitian kala itu. Deretan lukisan dan patung dada terasa tajam menatapnya seperti si Sosok Bertudung. Sesuatu yang tajam dan dingin terasa terjebak di dada Sam sementara dia berlari, nafasnya terengah-engah panik. Kakinya tersandung sesuatu, nyaris membuatnya jatuh terjungkal. Untungnya, dia berhasil menyeimbangkan diri, berlari semakin jauh dari semua itu.
Hingga akhirnya, penanda di helmnya berbinar di salah satu ruangan, mengarahkannya ke salah satu pintu. Label di pintu itu tergantung miring. Di sana tertulis samar, Ri’
Kantor ayahnya.
Tanpa sadar, Sam merosot jatuh di depan pintu itu; tubuhnya menolak untuk maju. Dia kesulitan untuk bernafas kembali, dan seluruh kakinya terasa terbakar. Gelombang kelelahan yang dia abaikan dari tadi kembali menyapu Sam, mengaburkan pandangannnya.
“Sam?”
Komentar
Posting Komentar