Bab 7

 Ak yang berbicara untuk pertama kali.

 Sam, udara bergetar saat Ak memutuskan untuk memecah keheningan. Dia berbicara pelan-pelan, seperti takut-takut Sam akan mendapat serangan panik jika dia melanjutkan terlalu cepat, apa yang dia bicarakan? 

  Sam tak menjawab. Mukanya tak terlihat, tertutup helm; tapi Ak bisa melihat tangannya mengepal. Dengan langkah-langkah lambat, Sam berjalan menuju kursi terdekat dan menghempaskan diri ke sana. Di sana, Sam terdiam lama, sebelum akhirnya memecah keheningan. 

 “Jadi, dimana ayah sekarang?”  

Lensa Ak berganti fokus. Negatif, aku tak tahu. Tak ada dokumentasi lain yang berfungsi dan bisa kita akses.  

 "Pasti ada jalan lain." Sam menyergah. "Kita- oh, entahlah, aku tak tahu. Kita cari dan tanyai si 'Sosok Ber'- Ketua Dewan itu. Kita paksa dia buka mulut, kalau perlu."  

 Ak melihatnya seperti semacam orang gila. Sangat tak mungkin, Sam. Bagaimana kau bisa menemukan dia? Dia orang paling berkuasa di kota, kau tak bisa- 

"Bisa." Sam memotong, melompat berdiri. 

 "Kita terobos masuk saja fasilitas penelitiannya; kita berhasil sekali, kita bisa berhasil dua kali. Hajar robot-robotnya dan lepaskan satu-dua raksasa; dia barangkali akan cukup ketakutan sehingga bisa diajak berunding."

 Sam, apa kau tak apa-apa? Ak bertanya, membelokan arah pembicaraan. Mungkin lebih baik jika kau menepi dan menenangkan diri, sistem mendeteksi detak jantungmu dua kali lebih cepat dibanding normal- 

  "Aku tak apa-apa." Sam mengibaskan tangan. Tangan satunya meraba meja, mengambil salah satu pipa. Ak mundur saat Sam mengibaskan benda itu, memegangnya erat-erat. "Kalau dia tak mau- aku, maksudku kita, bisa paksa dia kalau perlu-" 

  Sam. Robot sialan itu sekali lagi memotong ucapannya. Apa yang Ketua Dewan maksud tadi? Soal istri Ri'- maksudku, ibumu? 

  Sam terpaku di tempat, sama seperti ayahnya tadi. Pertanyaan Ak tepat sasaran. Tangannya perlahan-lahan menurun, tapi detak jantung dan nafasnya tak kunjung mereda. 

  Sam, tolong tenangkan diri. Kita takkan kemana-mana kalau begini. 

  Sam dipaksa duduk ke kursi oleh lengan mekanik Ak. Tangan Sam bergetar, dan pegangannya ke pipa di tangannya lepas, membiarkannya jatuh berkelontangan. 

  Lebih baik. Ak berkata, menatap Sam tajam. Jauh lebih baik. Kau bisa bicara sekarang. 

 "Apa kita bisa menemukan ayah, kalau begini?" Sam berkata, suaranya terdengar jauh lebih kecil dibanding biasanya. "Aku tak ingin ditinggal sendirian." 

 Positif- jangan khawatir, kita pasti bisa menemukan Ri'. Aku akan menemukan caranya, kau akan melakukannya. Suara Ak datar seperti biasa; tapi dalam situasi ini, suara Ak terdengar tenang dan teguh, tepat apa yang Sam butuhkan untuk membangun kembali kepercayaan dirinya. 

  Sam melompat bangun, mengedarkan pandangan. Dengan Ak terbang kembali ke komputer untuk mendapatkan informasi tentang entahlah-apa, Sam mengangkat barang, mencari sesuatu yang barangkali masih tersisa di tengah kekacauan. 

  "Lihat ini." Sam berdiri, membawa sebuah buku tua. Ak berbalik, lensanya memindai buku itu. 

  Objek tak dikenali. Apa itu, Sam? 

Sam membuka buku itu. Debu segera meruap dari halaman-halamannya yang kusam, menghalangi lensa helmnya. "Aduh, debu sialan- ini jurnal perjalanan ayah dulu, sebelum kau ada. Kami masih mencatat ini-itu dengan kertas waktu itu. Setelah itu, yah, kau yang mendokumentasikan semuanya." 

 Sam melewati halaman demi halaman, lompat langsung ke halaman-halaman terakhir. Foto dan catatan-catatan lama ditempel ke halaman itu, menunjukan banyak foto tubuh robot setengah jadi dan sepotong chip perak. 

 Sam memungut salah satu foto yang terjatuh. Sementara Ak mempelajari jurnal itu, kenangan-kenangan lama menyapu pikiran Sam. 

    

 “Ak, kau pernah terpikir soal kenapa kami membuatmu?” 

    

 Tidak, itu tidak ada di programku. Memangnya ada apa? 


( Ilustrasi  1) 

*** 


 

 Sudah seminggu sejak mereka keluar dari kota Mo yang kecil, rapi, dan kelabu, juga dari rumah sakit mereka yang tak kalah rapi dan kelabu. Juga seminggu sejak terakhir kali Sam bertemu Ibu. Saat Sam bertanya ke ayah kemana ibu sedang pergi atau kapan dia akan kembali, ayah hanya bergumam tak jelas dan pergi ke kamar mereka. 

  Dia dan ayah pindah ke suatu kabin kecil. Tak ada kota maupun bangunan lain sepanjang masa memandang. Meski begitu, seorang teman ayah datang pada hari pertama mereka di sana, membawa berkotak-kotak peralatan dan besi dalam beragam bentuk. Orang itu juga menyerahkan sebuah buku tipis ke ayah, berjudul Manual Pembuatan Asisten Kelana.  Orang itu berbicara panjang kepada Ri’, tapi tidak berbicara apapun kepada Sam. Langsung pergi begitu saja. 

  Sejak hari itu, ayahnya mengurung diri di kabin. Setiap kali Sam mengintip masuk, terlihat lantai bertebaran dengan berbagai baut, kabel, dan bagian-bagian mesin lainnya. Percik api melayang dimana-mana dan ayahnya tampak bagai siluet yang besar, membungkuk menghadapi meja. Peralatan aneh tergeletak di meja, uraian kabel tampak seperti tangan-tangan aneh. 

  Waktu berlalu dan berlalu, menyatu jadi satu siklus yang berkepanjangan. Sam menghabiskan waktu dalam kebosanan dan kesendirian.  

  Suatu hari, suara teriakan senang terdengar dari kamar ayahnya. Ak berlari ke pintu kamar, mengintip masuk. Sesuatu seukuran bola tenis melayang di atas meja, dengan lensa biru berkilau, balas menatap tajam ke arah Sam. Cetak biru bergambar benda yang sama tampak di latar belakang, penuh tulisan. Satu yang bisa Sam baca, yang paling besar dan terletak di paling atas, terbaca sebagai A.K

  Identifikasi muka- tak dikenali. Udara bergetar dengan suara asing. Sam menatap ke bola perak itu; lensa birunya bagai tajam menusuk, menilai dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.  

 “Oh ya, aku lupa.” Suara ayahnya terdengar dari pojok ruangan. Sam menoleh. Dia tampak lelah, tapi juga tampak paling senang di hari-hari ini. 

 “Ini Sam, Ak, ingat-ingat.” Ri’ mendorong tubuh kecil Sam, memaksanya menjabat tangan. Bola perak itu membalas; tangannya terasa dingin dan- sama sekali tak mirip tangan manapun. 

 “Sam, ini Ak. Mulai sekarang dia yang akan jadi anggota ketiga kita, oke? Dia yang akan menjagamu, dan kalian akan selalu bersama-sama.” Ri’ menggapai tubuh Ak, senyum besar terbentang di wajahnya. “Kita akan mulai pergi kembali besok! Ak, sebutkan lokasi tujuan kita!” 

 Pegunungan Eva, 547 kilometer dari sini. Pusat sudah menyediakan sarana transportasi untuk kita. 

  “Luar biasa!” Ri’ tertawa lepas, melompat dan meninju udara. “Kau lihat, Sam? Dia akan jadi anggota yang fantastis!” 

  Ri’ berjalan keluar kamar, dengan Ak mengikutinya di belakang. Samar-samar, Sam mendengar Ri’ berkata, “Ak, kemas semua barang-barang! Kita harus siap pergi secepat mungkin. Nah- mana koper kita?”

  Ayah tampak senang dengan kedatangan Ak. Sam, disisi lain, tidak terlalu. Robot ini muncul tiba-tiba entah dari mana, menggantikan ibunya begitu saja. Ri’ tak pernah menyinggung soal istrinya sendiri soal itu, paling tidak untuk tahun-tahun ke depan. Malah, dia tampaknya mencurahkan seluruh perhatiannya ke si robot baru ini, memuji setiap tindakannya dan memprioritaskan dia dalam situasi. 

  Kabin kecil itu segera kembali ditinggal pergi, saat keluarga kecil pemiliknya kembali pergi. Keluarga kecil yang datang dengan seorang ayah yang berduka dan anaknya yang kebingungan, dan pergi dengan seorang ayah yang gembira dan anaknya yang murung. 

  

***


  "Satu hal yang belum jelas, tapi." 

 Kembali ke kantor di sebuah kota di bawah laut. Sam meremas tangannya saat sebuah pikiran yang mengganggu kembali melintas di pikirannya, menuntut perhatiannya. 

 Apa? 

"Dari mana Ketua Dewan tahu soal alasan kau dibuat? Dari mana dia tahu soal- ibu? Apa ayah memberitahu dia?" 

 Ak bergetar. Kurasa tidak; dia bahkan tak memberitahu aku sendiri, bukan? Kenapa Ri' bakal memberitahu Ketua Dewan, kalau begitu?

"Ya, kurasa ayah juga lebih senang jika bisa melupakannya." Sam membenamkan muka, tapi tangannya segera terhadang lensa helm. "Tetap saja, semua ini tak berguna. Bagaimana kita bisa menemukan ayah kalau begini?"

  Jangan terlalu khawatir, Sam. Bisa jadi dia baik-baik saja. 

 Sam menggumam tak jelas, suaranya teredam lengan baju. Melihat Sam tak kunjung mengangkat kepala, Ak melayang canggung, mendarat di depan komputer. Sebetik ide liar terbetik di kode Ak- tidak, tidak, terlalu beresiko. Tapi… 

  Sebetulnya, Sam, Ak berbicara perlahan, kita masih punya cara lain untuk melacak Ri'. 

 "Ada?" Sam mengangkat kepala, tertarik, "Bagaimana-?" 

 Kita bisa pergi ke pusat data kota dan meretasnya. Dari situ, kita bisa mendapat akses semua kamera keamanan hingga data soal siapa yang memasuki setiap ruangan. 

 "Apa itu tak terlalu berisiko?" Sam menaikan alis. 

Memang sangat beresiko. Tapi kita tak punya cara lain. 

 "Aku tak menyangka akan tiba waktunya kau menyarankan kita melakukan hal begini." Sam menyeringai. 

 Aku takkan memilih ini dalam situasi normal, memang benar. Ak mengaku, Tapi kita harus segera menemukan ayahmu. Aku punya banyak pertanyaan untuk dia. 

   "Bagus, kalau begitu!" Sam menyambar pipa terbesar yang terdapat di mejanya. Dengan penuh gaya, Sam memutar pipanya. Dia segera kehilangan keseimbangan, membuat pipanya jatuh berkelontang. 

   Di bawah tatapan Ak, Sam salah tingkah, segera memungut pipanya. 

   Ak melotot. Kau tahu, Sam, tindakan begini yang membuatku mulai ragu. 

  "Aku siap, aku siap!" Sam menegakan diri. "Jadi, bagaimana rencananya?"

*** 



Para Terbuang



   Si Penyelamat menyandar ke dinding lift, sementara mesin karatannya berderit-derit turun ke bawah. Pintu berdenting dan membuka perlahan, menampakan ruang yang penuh dengan berbagai perabotan dan mesin, beberapa separo jadi. Tampak seperti perpaduan ruang keluarga dan bengkel. Si Penyelamat melangkah masuk. 

   Tanpa melihat ke mana-mana, Si Penyelamat segera menghempaskan diri ke kursi terdekat, menghembuskan nafas. 

   Selama sesaat, tak ada suara di sana. Hingga, kelontangan besi memecah keheningan. Suara denting pintu terbuka kembali terdengar, dan sesosok siluet melangkah masuk. 

   "Dapat sesuatu?" Si Penyelamat berkata tanpa menoleh. Orang baru yang baru datang masuk dan duduk di kursi yang lain, mengetukkan jarinya ke pegangan kursi. 

    "Banyak." Suara orang itu tinggi tak manusiawi, berdecit seperti mesin kurang minyak. Dua lensa kebiruan menatap tajam. Mukanya tertutup kerah jubah yang putih pudar, juga topi dengan warna serupa. 

    "Seseorang berhasil meretas robot-robot penjaga dan menerobos masuk laboratorium." Si orang baru itu melempar sepotong baut ke atas dan menangkapnya lagi. "Kau pikir itu orang yang dia temui?" 

  Si Penyelamat termenung, teringat dengan anak yang dia jumpai di fasilitas penelitian. "Bisa jadi. Banyak hal yang kita lewatkan di bawah sini, sepertinya." 

  Si orang baru tertawa, "Aku beritahu kau cara agar kita tak ketinggalan berita: kita terobos masuk pusat data mereka dan cari Vae. Si Ketua Dewan sudah gila, dia benar-benar serius soal segala 'membangkitkan'  adiknya itu."

  "Ya, tapi dia jauh lebih waras dibanding kau." Si Penyelamat menggumam. 

  Sesuatu bergerak dari tumpukan mesin dan barang-barang bekas. Sesosok siluet besar keluar dari sana, setiap gerakan menimbulkan suara besi beradu. Cahaya menyorot ke arahnya, menampakan robot bulat dengan kaki dan tangan di sekitarnya. Layar di depannya menampakan sepasang mata yang memantau ruangan.

   Oh, halo semua! Dia berkata. Suaranya khas para robot, tapi juga terdengar tinggi dan nyaring,  seperti anak-anak. Kalian sudah dengar kabar terbaru?

  "Soal apa?" Si orang baru bertanya. 

Ada ilmuwan baru di pusat kota. Si robot berkata. Layar-mukanya bergerak terbuka, menampakkan seorang gadis kecil dengan setelan mekanik dan di dalam pod. Gadis itu melompat turun dan menghampiri meja. Dengan gerakan cepat, dia menyambar dan merobek salah satu kantong keripik dan merogohnya, mengunyahnya dengan berisik. "Ditugaskan untuk mengurusi pengaliran esensi baterai, kalau tak salah." Suaranya tak terdengar jelas sambil mengunyah.

 "Darimana kau tahu?" Si Penyelamat bertanya tajam. Si gadis kecil melambaikan tangannya yang berlumuran bumbu keripik, tak peduli. "Data kota sedang mudah-mudahnya dibobol, entah kenapa. Ada berbagai aktivitas peretasan ke unit-unit kota; barangkali para penjaga data sekarang sedang mencoba menanggulanginya." 

  Si orang bertopi tertawa penuh kemenangan dengan suaranya yang aneh. "Kau lihat?" Katanya, menunjuk ke arah Si Penyelamat. "Kalau kita mau menerobos masuk, sekarang waktunya!" 

 "Menerobos masuk ke mana?" Si gadis kecil bertanya, merogohkan tangannya lebih dalam ke kantong. 

 "Tahulah, pusat data. Kita hancurkan tubuh Vae sebelum dia sempat jadi masalah." 

 "Entahlah, NoR." Si Penyelamat menyela. "Kita tak tahu banyak soal apa yang terjadi- mungkin akan lebih aman jika kita menunggu dulu?" 

 Si orang bertopi, NoR, menggeleng. "Justru sekarang waktu yang bagus. Jangan khawatir, kita akan masuk dan keluar sebelum mereka sadar ada yang salah." 

  "Baguslah." Si gadis kecil angkat bicara, menjilati jari-jarinya. "Selagi kita pergi ke kota, bisakah kita cari baut ukuran sedang? Persediaanku mulai habis."

  "Ya, kita bisa cari sebelum pulang." NoR menyambar, senang dapat dukungan. Dia menoleh ke Si Penyelamat. "Bagaimana-?" 

  Si Penyelamat mengerang, kalah. "Terserahlah, kalian berdua sama saja. Ayo cepat, kalau begitu." 

  Si gadis kecil bersuit. Di belakangnya, robotnya terbangun, kembali membuka podnya. Dengan satu tangan, robot itu memasukan si gadis kecil dan segera menutup kembali pod itu. Tubuhnya bergetar, sebelum robot itu kembali bergerak.   

 NoR segera memanjat punggung robot itu.

  "Dasar, apa kau mengontrol robotnya dengan tangan begitu? Cuci tangan dulu, sana!" Si Penyelamat bersedekap, menolak mengikuti NoR. 

 "Berisik, ah. Nanti kucuci, kok." Suara si gadis kecil terdengar, melambaikan tangannya- tangan robotnya, tentunya. "Kau yang bilang cepat, kan? Nah, ayo cepat!" 

  Si Penyelamat menggerutu, tapi tetap melompat ke punggung robot, menyelipkan tangan ke pegangan yang tersedia. "Kenapa aku harus terjebak dengan orang-orang seperti kalian?" 

  NoR di sebelahnya tertawa. "Hah, kau akan kehilangan kami kalau kita sudah keluar dari kota terkutuk ini, ikan tua." 

  "Mana ada-"

  Ucapan Si Penyelamat terputus teriakan si gadis kecil. "Pegangan, kalian berdua!" Tali kait keluar dari salah satu tangan robotnya, menarik mereka ke atas. Di atap ruangan, pintu tahan-air terbuka, mengeluarkan mereka ke lautan terbuka.  

  Di luar, cahaya-cahaya menyilaukan tampak berkilau dari sosok kota Ir'Au yang menjulang tinggi nan angkuh. Tak ada yang sadar tentang tiga sosok yang melesat di dasar laut yang tandus, menuju pusat data kota. Dan tak ada yang melihat seorang anak laki-laki dengan pipa di tangan dan robotnya mengendap-endap di lorong kota, juga menuju tempat yang sama demi mencari ayahnya yang hilang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis

Bab 6