Bab 6

 Sam?

 Suara seseorang terdengar. Barangkali hanya bayangannya saja. Sam menoleh. 

 Ak, dalam tubuh aslinya, melayang di sana. Lensa birunya berkilau, balas menatapnya. Kelegaan yang tak pernah dia rasakan  mengaliri dirinya saat dia memaksa kakinya untuk berdiri.  

  “Ak.” Sam menarik nafas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya. “Bagaimana dua robot itu?” 

  Hancur. Ak menjawab, tubuhnya melayang-layang sementara dia memindai Sam dari segala penjuru. Begitu kau pergi, aku mengaktifkan ledakan bunuh diri di robotku, menghancurkan kami semua dalam proses. Seharusnya mereka tak mengganggu kita lagi. 

 “Baguslah.” Sam terdiam. “Jadi apa yang kita lakukan di sini? Apa yang terjad-?” 

  Masuk ke dalam. Ak berkata, tangan mekaniknya meraih pegangan pintu. Dengan bunyi klik pelan, pintunya membentang terbuka. Sam melangkah mengikuti Ak dari belakang, memasuki ruang kerja ayahnya. 

  Ruangannya cukup besar, tapi tetap terasa sesak dengan meja besar di tengah dan berbagai perabotan berjejer di pinggiran. Meja tengah itu penuh dengan berbagai peralatan aneh yang berantakan, juga bertabung-tabung sampel air keruh. Di pinggir, sebuah meja komputer terletak. Lampunya berkedap-kedip mati sejak Sam melangkah masuk, dan lantainya penuh dengan berbagai barang berceceran. 

  Biasanya tak seberantakan ini. Ak berkata, melayang masuk dengan mudah. Di belakangnya, Sam bersusah-payah melewati lautan kekacauan itu, berjingkat-jingkat menghindari barang-barang yang berserakan. 

  “Apa yang akan kita lakukan di sini, Ak?” Sam bertanya. Bagaimana cara mereka mengetahui apa yang terjadi pada ayahnya kalau begini? Tak ada petunjuk apapun yang tertinggal, dan jika memori Ak rusak, dia juga tak tahu apa-apa. 

  Kita akan cari cara untuk cari tahu apa yang terjadi. Ak menjawab, menyalakan komputer. Mungkin kita bisa dapat sesuatu dari sini. 

  Selama sesaat, tak ada suara saat Ak menghubungkan sistemnya dengan komputer. Layar komputernya menyala terang dan memuntahkan deretan berbagai simbol yang terus berganti sementara Ak memakukan pandangannya ke komputer, sekali-sekali menggunakan lengan mekaniknya untuk mengetik. 

  Sementara Ak bekerja, Sam berkeliaran di kantor ayahnya, mencari sesuatu yang menarik di tempat itu untuk mengusir kebosanan. Lantai berantakan dan barang-barang berserakan, itu sudah janggal, tapi tak membantu. 

 Di meja-meja itu, tak banyak hal yang menarik: hanya berbagai sampel air asam dari sekitar, berbagai peralatan- beberapa Sam kenali, lainnya tidak. Cetak-cetak biru yang tampaknya merupakan rancangan pengairan kota tergulung dan terbentang di sepenjuru meja.  Deretan pipa percobaan tampak berjajar, beberapa rusak karena tak sanggup menahan asam yang diuji-cobakan. 

Sam, coba ke sini. Ak berkata, melambaikan tangan mekaniknya ke arah Sam. Aku berhasil mengakses rekaman kamera keamanan. Hanya satu yang tersedia, tapi ini mungkin bisa membantu.

 “Hanya satu rekaman yang tersedia?” 

Karena alasan yang tak kuketahui, semua rekaman yang lainnya rusak. Aku tak punya cara untuk memperbaikinya.

 “Apa jangan-jangan rekaman itu sengaja memang dirusak?” 

Bisa jadi. Tapi kenapa rekaman ini tak dirusak, kalau begitu?

 “Karena- oh, entahlah! Mereka kurang teliti, barangkali?”

Ak hanya memperdengarkan bunyi-bunyian yang tak jelas. Dengan tangan mekaniknya, dia menekan tombol dan memulai rekaman itu. 

  Disertai desis statis, visualnya mulai masuk. Mulanya buram, tapi gambarnya mulai lebih fokus setelah beberapa detik: ayahnya membungkuk di atas mikroskop, memeriksa beberapa sampel tabung air keruh. Dia tampak lelah, tapi selebihnya sehat. Di latar belakang, Ak terlihat hilir-mudik membawa barang-barang. Ruangannya terlihat lebih rapi dibandingkan sekarang, dengan barang-barang tertata dan tidak berserakan di lantai. 

  Dahi ayah Sam mengerut. “Entahlah, aku kurang suka dengan ini.” Ri’ berkata sambil kembali menegakan diri, mengambil salah satu tabung di meja. Mata Sam terpaku menatap tabung itu. Cairan keunguan membara, sama seperti di fasilitas penelitian. Bagaimana ayahnya bisa mendapatkan benda itu? “Bagaimana tes komponennya, Ak?”

   Belum sepenuhnya selesai. Ak- Ak waktu itu, tentunya, bukan Aku sekarang- melayang masuk ke penglihatan. Meski begitu, aku rasa cukup aman untuk menyimpulkan kalau air asam ini memang terpengaruh. 

   Ri’ mengelus-ngelus tabung di tangannya, berpikir. Cairan ungu di tangannya tampak bergolak. “Mereka harus segera diberitahu untuk menghentikan seluruh operasi ini. Mereka pasti belum sadar bahayanya. Masih untung operasi ini baru dimulai.” 

   Ak melayang bimbang, lensanya bergerak keluar-masuk fokus sementara dia berpikir. 

  Ri’, aku takut operasi ini sudah lama berjalan. 

  “Apa maksudmu?”

Aku terdiam ragu, sebelum melanjutkan. Aku dan Samudra baru-baru ini tersesat ke salah satu fasilitas penelitian tak dikenal. Salah satu objek utama yang mereka miliki di sana adalah cairan ini, dipakai untuk berbagai kepentingan. Sepertinya kota IrAu punya banyak proyek sehubungan dengan cairan ini yang terjadi di bawah radar. 

 Ri’ terdiam. Mulutnya terbuka, sebelum kembali menutup seperti ikan mas koki. 

 “Wah, wah, wah. Jadi itu kau, rupanya?” Suara seseorang memasuki rekaman, membuat jantung Sam bagai melompat. Di belakang, pintu terkuak lebar, menampakan sosok siluet berlatarkan lampu yang menjulang tinggi. Sam refleks melihat ke belakang; tidak, tidak, tak ada orang di sana.  

“Dan siapa nama rekanmu tadi; Samudra?” Si Sosok Berjubah melangkah masuk, diikuti beberapa orang berseragam petugas keamanan kota IrAu. Salah satunya, Sam sadar, adalah Iv, orang yang pertama kali menyambut kedatangan mereka. “Nama yang… unik, kurasa. Aku sangat ingin bertemu dengan orang itu dan berbicara sepatah dua patah kata.” 

  “Ketua Dewan!” Ri’ berkata, kebingungan. Sementara itu, Sam juga sama kebingungannya, setengah berbisik kepada Ak: “Dia ketua dewan- apa? Dewan Kota?” Ak tak menjawab, lensanya terfokus pada rekaman di depan. 

“Apa- apa yang Anda lakukan di sini?” Ri’ bertanya, secara tak sadar melangkah mundur. Ak melayang di sampingnya, mencerna situasi. 

  “Untuk berbicara, tentunya. Memastikan kita semua punya pemahaman yang sama dalam hal ini.” Si Sosok Berjubah, yang ternyata adalah Ketua Dewan, mematut-matut sarung tangannya. “Kau harus sadar betapa besarnya potensi benda itu.” Dia menunjuk, tangannya mengacung ke tabung cairan ungu yang dipegang ayahnya Sam. 

  “Maksud anda, cairan ini?” Ri’ mengangkat tabung itu, memperlihatkan isinya ke semua orang. “Tidak, anda tak paham- cairan ini berbahaya! Dia yang menyebabkan air di sekitar kita jadi beracun- dan kalau kalkulasi ku tak salah, cairan ini bisa meledak dalam kondisi tertentu! Anda tak bisa-” 

  Ucapan Ri’ terpotong oleh tawa si Ketua Dewan. “Oh, Ri’, itu kemampuannya yang paling membosankan, aku berani bilang. Ya, dia bisa meledak. Ya, proses penambangannya melepas beragam zat yang mengotori air di sekitar kita. Kau tahu apalagi yang bisa dia lakukan?” 

  Si Ketua Dewan melangkah lagi, mengambil tabung itu dari tangan Ri’ dan mengamatinya dari dekat, menggoyangkannya sedikit. 

 “Sumber energi abadi, Ri’.” Si Ketua Dewan berkata, matanya terfokus ke tabung di tangannya, memantulkan cahayanya. “Dengan benda ini, kami bisa membuat kota kita berfungsi untuk- yah, selama-lamanya, aku berani bilang. Impian kita soal kota abadi berkelanjutan bisa berlangsung selamanya. Tanya ke dia.” Sosok Berjubah mengacungkan tangannya ke Ak. “Dia melihat sendiri berbagai hal yang bisa kita lakukan dengan cairan ini. Percaya padaku, Ri’, ini akan sepadan dengan harganya. Laut juga akan kembali bersih sendiri pada masanya nanti, bukan?” 

 Ayah Sam menggeleng-geleng. “Tidak, tidak. Kau tak tahu- pernahkah kau melihat di luar kota? Daratan di atas sana? Semuanya terhubung ke sini- mereka akan ikut hancur jika kau melanjutkannya!” 

 Si Sosok Berjubah melambaikan tangan, tak terlalu peduli. “Oh, mereka bisa pergi ke bawah sini. Pada saatnya, seharusnya IrAu bisa menampung seluruh manusia- bagaimana tidak? Dengan cairan ini, kita tak perlu khawatir soal keterbatasan energi!” 

 Ri’ masih menggeleng-geleng panik. Sosok Berjubah mendecakan lidah, tampak sebal. “Kau masih harus diyakinkan lebih lanjut, ya? Dengar, Ri’. Aku bisa mewujudkan semua yang kau mau; astaga, dengan ini, aku bahkan bisa memanggil kembali istrimu! Kau tak perlu replika seperti itu untuk menemanimu.” Si Sosok Berjubah melambaikan tangan ke arah Ak yang kebingungan. 

  Sementara saat itu, Ri’ terdiam. Meski begitu, matanya mengatakan semuanya: kaget dan terguncang, skeptis menuju keingintahuan, hingga secercah harapan yang mulai muncul. 

  Di masa kini, Ak tampak sama bingungnya dengan dia di rekaman. Sam mendesis, mungkin agak terlalu keras: “Dari mana dia tahu itu?” 

  Ri’,

 Sam, 

 Ak, baik di rekaman maupun di kenyataan, memanggil rekan mereka. 

 apa yang dia bicarakan? 

 Sebelum ada yang sempat menjawab, Sosok Berjubah menyerahkan tabung itu kembali ke tangan Ri’. Cairannya bergolak saat tabungnya disentuh tangan ayah Sam.

  “Kuberikan dia tubuh baru dengan ini.” Suaranya bergaung sendirian di ruang itu. Mata Ri’ memantul di tabung, beralih dari keragu-raguan jadi tekad bulat “Kau punya janjiku untuk itu, Ri’. Kau hanya perlu-”

  Perkataan Sosok Berjubah terpotong oleh sesuatu yang tak diduga siapapun: entah apa yang mendorongnya, begitu melihat kesempatan, Ak melesat turun, merebut tabung itu secara paksa dari tangan Ri’ menggunakan tangan mekanik miliknya. Sebelum ada yang sempat bereaksi, Ak melempar tabung ke rombongan Sosok Berjubah. 

 “JANGA-” Terlambat. Suara si Sosok Berjubah dan seisi rekaman terpotong oleh ledakan itu. Layar mati, kemudian beralih jadi tayangan semut-semut hitam berkelap-kelip itu. 

 Hening.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis

Bab 7