Bab 4


   Sam lumayan tercabik antara pulang atau terus menjelajah. 
 
 Lorong itu segera berakhir begitu mereka bertemu sebuah pintu. Kotak kargo bertebaran di sekitarnya. Begitu mereka melangkah melewatinya, ruangan terbuka yang luar biasa besar segera menyambut mereka di depan: jembatan membentang di seluruh ruangan, berkelok dan naik-turun, dibatasi dengan rantai. Jembatan itu menghubungkan ruangan-ruangan berbentuk kubus yang tampak melayang begitu saja. Saat Sam melihat ke belakang, terlihat kalau lorong yang baru saja mereka lalui merupakan salah satu ruangan kubus itu. 
 Tabung cairan keunguan masih ada dimana-mana, tapi jauh lebih besar dibanding yang mereka lihat sebelumnya. Robot yang mereka lihat tadi tampak banyak berkeliaran, membawa kotak dan melakukan banyak tugas yang tak dipahami oleh Sam. 
 Sam penasaran untuk masuk, tapi suara Ak mencegahnya. Jangan. Lensa mereka bergerak mengarah ke atas, menunjukan robot-robot bulat seperti Ak, menatap tajam dengan lensa mereka. 
 Unit itu tampaknya berfungsi sebagai kamera keamanan. Ak berkata. Kau tak ingin ketahuan, kalau aku tak salah? 
 Sam menggeleng. “Bagaimana kita kesana, kalau begitu?” 
 Lensa Ak memindai situasi mereka. Nol: tak ada titik buta atau jalan alternatif aman yang bisa kita eksploitasi. Kecuali kamu punya solusi lain, aku sarankan untuk kembali. 
  Sam akan menjawab, tapi perkataannya terpotong oleh dentang baja yang familiar. Dia segera menarik tubuh melewati pintu, sementara salah satu robot turun ke jembatan di depan mereka. Sebuah ide liar segera terlintas di kepala Sam. 
 “Ak, jangan banyak bicara dulu untuk saat ini.” Sam melompat masuk ke salah satu kotak kargo, hati-hati memastikan kotaknya tertutup rapat. 
Apa kamu berencana untuk menyelinap dengan diangkat oleh robot itu?
“Ya.” Sam mengatupkan rahang.
Sangat beresiko.  
“Ya, ya, aku tahu; tapi berhenti bicara juga akan sangat mengurangi resiko ketahuan, jadi boleh-?” 
 Suara baja berderit kembali terdengar, jauh lebih dekat kali ini. Untungnya, Ak segera tutup suara (entahlah, memangnya Ak punya mulut?). Suara kotak ditumpuk terdengar, hingga suara derit kayu terdengar tepat di telinga Sam saat sepasang tangan memegang kotak miliknya. Sam merasa tertekan ke bawah saat kotak mereka diangkat, diletakkan di atas tumpukan. 
 Dentang suara langkah kaki akhirnya terdengar, seperti semacam pola aneh. Suara kesibukan lamat-lamat memasuki telinga Sam: denting besi, gelegak cairan, desing mesin. Tak ada suara manusia, tapi. Pelan-kelamaan, semakin jauh mereka berjalan, Sam mengintip keluar sedikit. 
 Dari dekat, tabung-tabung itu terasa jauh lebih raksasa. Cahayanya bersinar terang, menyilaukan mata Sam. Yang menakutkan adalah raksasa di dalamnya: jauh lebih besar dibandingkan makhluk hidup apapun yang pernah Sam lihat, dan sama sekali tak mirip dengan makhluk apapun. Dari sini, Sam tak bisa membuat perbandingan dengan hewan apapun: makhluk itu terlalu asing untuk bisa disamakan. 
  “Ak, ini apa?” Sam berbisik sangat pelan, tak ingin menarik perhatian sang robot yang membawa mereka. 
 Tampaknya berfungsi sebagai wadah penyimpanan makhluk-makhluk itu. Ak menjawab, sama pelannya. Masalahnya, aku tak bisa menemukan data apapun soal mereka, atau cairan yang digunakan untuk menampung mereka. 
  Sam membuka mulut, tapi segera menutupnya saat tak tahu mau menjawab apa. Ini aneh, keberadaan seluruh fasilitas ini tampaknya sama sekali tak diketahui oleh pusat data kota sekalipun. 
  Maka, mereka berdua mengamati dalam diam sementara mereka terbawa naik dan terus naik oleh robot yang membawa mereka. Semakin tinggi mereka, tangki-tangki itu semakin jarang, digantikan oleh mesin-mesin besar yang merakit para robot-robot disini, membuatnya setengah jadi sebelum mengirimkannya ke sektor lain. 
  Hingga akhirnya, Sam dan Ak dimasukan ke sebuah bangunan kubus terbesar yang ada di sana. Penglihatan mereka terhadang boks-boks lain, tapi mereka segera melihat ratusan robot lainnya. Tanpa kata, mereka segera setuju untuk menarik masuk kepala mereka, benar-benar menutup penglihatan mereka. 
  Selama sesaat, tak ada yang terjadi. Suara banyak mesin berdetak seperti mesin jam memenuhi pendengaran mereka, membuat mereka tak tahu apa yang terjadi di sana. 
  Suara langkah kaki lagi-lagi menembus pendengaran mereka. Sam segera menahan nafas saat mereka kembali diangkat. Tapi kali ini tak lama-lama, mereka langsung dijatuhkan ke lantai- Sam menahan diri untuk mengaduh saat bahunya terbentur dengan dasar peti. 
 “Bagus, ini yang terakhir.” Suara seorang pria yang teredam terdengar memasuki peti, menghembuskan nafas. “Cairan terkutuk ini semakin berat semakin lama. Mana mereka minta tambah harga, lagi!” 
  Kusarankan untuk mempercepat proses pemindahan, kalau begitu. Suara robot menyambut orang pertama. Yang ini lain, mirip suara seorang perempuan. Kita bisa segera mengakhiri ini dengan cepat kalau kau lebih fokus. 
 “Aku tahu, aku tahu.” Memberanikan diri, Sam mengintip sedikit. Seorang sosok berjubah hitam muncul di penglihatannya, memegang tabung berisi cairan ungu itu. Dia membelakangi Sam, menghadap meja penuh peralatan tak dikenal. “Jangan khawatir, Vae. Kau tahu aku tak pernah mengecewakanmu.” 
  Sialnya, Sam tak sengaja mengintip keluar terlalu jauh. Suara kayu berderit segera mengejutkan si sosok berjubah hitam, yang segera berbalik. Mukanya tertutup topeng, tapi Sam bisa merasakan mata orang itu melotot melihat dirinya. Sosok itu segera mengeluarkan tangan dari jubah, menampakan pistol yang diisi dengan tabung cairan ungu yang sama, tampak membara seperti api keunguan.
  Sebelum dia sempat membidik, Sam refleks mengambil salah satu tabung ungu dan melemparkannya. Si sosok itu segera melompat minggir, tampak terkejut. Tabung itu segera meledak begitu menghantam dinding, membakar sekitarnya dengan api ungu. 
  Baik Sam dan sosok itu tampak terkejut, dan bahkan Ak tak mengeluarkan sepatah kata sekalipun. Sam sendiri gemetar dan kehilangan keseimbangan, tanpa sengaja menjatuhkan petinya. Kepalanya menghantam lantai, membuatnya kehilangan arah. Untungnya, helmnya melindungi kepalanya dari benturan langsung. 
  Dengan peti Sam jatuh, tumpukan peti lainnya ikut kehilangan keseimbangan. Si sosok itu membelalak marah, berteriak “JANGAN!” dan menerkam maju ke arah Sam. 
  Terlambat. Puluhan tabung keluar jatuh dari peti-peti itu, menghantam lantai. Seakan puluhan petasan dinyalakan secara bersamaan, rentetan ledakan besar menggetarkan seluruh kabin, membuat mata Sam nyaris buta.
  Perlahan-lahan, Sam membuka mata. Dengan keajaiban, dia entah bagaimana bisa bertahan hidup. Separuh dinding kabin hancur lebur, menampakan robot-robot di luar yang memakukan pandangan ke mereka. Mereka ketahuan. 
  Sam mengedarkan pandangan ke sekitar. Si sosok hitam berdiri di dinding untuk menghindari ledakan, seakan gravitasi cuma anjuran yang bisa dia tolak semaunya. Matanya melotot ke arah Sam, sementara tangannya bergerak menuju tempat seharusnya telinganya berada. 
  “Sistem keamanan,” Si sosok berbicara, suaranya seperti keluar dari radio. “kita punya penyusup di ruang 7a: tolong segera ditindak-lanjuti.” 
  Tepat begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dua robot yang dia lihat tadi melompat turun entah dari mana, lensa merah mereka terpaku ke arah Sam. Tak ada tempat bersembunyi sekarang.
 “Vae.” Si sosok berbicara lagi, mengalihkan pandangan ke tempat lain. Sam mengikutinya: sebuah kubus hitam sederhana yang menyala dengan cahaya ungu, terhubung dengan banyak kabel. “Blokir semua jalan masuk. Aktifkan protokol C-Satu.” 
 Protokol C-Satu diaktifkan. Suara si robot perempuan, Vae, terdengar keluar dari kubus itu. Penyusup, harap diam dan bekerja sama dengan kami. Kami mungkin; tekanan berat pada kata mungkin, ngomong-ngomong; akan mengizinkan hidup sia-siamu berlanjut lebih lama jika- ooh. 
 Kata terakhir itu terucap begitu Sam berlari, menuju lubang bekas ledakan. Nafas Sam tersengal-sengal dan pikirannya kalut. Menerobos lidah api yang menjilat-jilat, kakinya melompat di tepi lubang. Selama sesaat, tubuhnya dihantam angin. Kakinya menendang-nendang dengan sia-sia di udara, dan Sam benar-benar kehilangan kendali atas tubuhnya saat itu. 
  Ujung tangannya, entah bagaimana, berhasil menggapai pegangan tangga. Dengan panik, Sam segera memegang erat-erat pegangan tangga itu, menarik paksa tubuhnya. Begitu kakinya menyentuh sesuatu yang padat, Sam menghembuskan nafas lega. Seluruh pakaiannya terasa panas di balik setelan bawah laut, lensanya berembun dengan setiap tarikan nafas tersengal-sengal dari Sam. 
  Itu, Sam, suara Ak akhirnya muncul, entah bagaimana berhasil terdengar seakan dia memang khawatir, adalah tindakan paling nekat yang pernah kulihat, bahkan untukmu. 
  “Kuanggap itu sebagai pujian?” Sam bertanya, tanpa sadar setengah tertawa. 
  Sebelum Ak sempat menjawab, getaran hebat mengguncangkan jembatan. Si Sosok Berjubah sudah mendarat dengan lancar ke jembatan, menyibakan lengan jubahnya. Tampak sebuah tangan sepenuhnya dari baja perunggu, berkilau terkena lampu. Tabung ungu itu tampak berkilau, membara mengalir di seluruh tangan seperti semacam darah aneh. 
  “Oh ya.” Sam refleks melangkah mundur. “Aku lupa soal dia.” 
 Oh, kau belum mati juga? Pfft, keras kepala, eh? Suara Vae kembali terdengar, dialunkan lewat pengeras suara ruangan. Ayolah, kami akan menutupi biaya pemakaman dan asuransi jiwamu, jika itu yang kau takutkan. Oh, plus satu karangan bunga untuk setiap anggota keluarga dan teman-temanmu, jika ada. Apa itu cukup? 
 Sam terkejut mendengar si Vae: dia tidak pernah mendengar robot apapun mengeluarkan sarkasme atau humor gelap begitu. Tapi mendadak, kepala Sam berkunang-kunang dan dia jatuh mencium lantai; setiap sel di kepalanya bagai menjerit kesakitan. Bajunya diangkat secara paksa, sementara dia menengadahkan kepala. Si Sosok Berjubah balas menatapnya dengan penuh kebencian. 
 “Kuanggap dia memutuskan itu ‘cukup.’” Suara Sosok Berjubah menembus masuk antena, menerobos telinga, menyebabkan jantung Sam berdegup lebih kencang. Dia tak pernah melihat seseorang melihatnya dengan kebencian sebesar itu, yang tak ditutup-tutupi. Setidak-suka apapun seseorang padanya, orang-orang selalu mencoba bersikap ramah kepadanya. Tapi ini… 
 “Selamat jalan.” Dengan acuh tak acuh, sang Sosok Berjubah melempar jatuh Sam keluar jembatan. 
  Tak ada pikiran yang sempat melintas di pikiran Sam, semuanya berubah kacau dalam hitungan detik. Dia berpikir tentang ayahnya; dia akan marah besar ke dia dan Ak soal apa yang terjadi. Dan Ak! Robot itu juga ikut terdiam sedari tadi, dia pasti terkejut juga seperti dirinya- 
  BUK! 
 Punggungnya menghantam sesuatu, sakit sekali. Tapi dia entah bagaimana bisa bertahan hidup. Sam membuka mata. Gelap. Jangan-jangan dia memang sudah mati.
 Ta-da! Suara si Vae lamat-lamat masuk ke pendengarannya. Lampu menyala di atasnya, menunjukan meja penuh lilin dengan patung-patung duduk berjajar mengitarinya. Mereka semua mengenakan topeng bermuka senyum. Konfeti berhamburan dari atas, turun ke lantai. 
  Bagaimana? Kau suka? Si Vae kembali bicara, suaranya mengalun seperti orang menyanyi. Agak berantakan dan standar, aku tahu; tapi hei, aku buru-buru, oke? Salahkan gravitasi, mereka menjatuhkanmu terlalu cepat! 
 "Oi, Vae!" Suara si Sosok Berjubah lamat-lamat masuk. "Apa yang kau lakukan? Aku sudah bilang, jangan main-main dengan dia! Bunuh dia sekarang!" 
 Tunggu sebentar. Vae berkata ke Sam, sebelum mematikan mikrofon. Hanya ada suara mendengung untuk beberapa lama, hingga alunan musik terdengar dan Vae kembali bicara. 
 Maaf, maaf, bosku sangat tak sabaran, memang. Nah, kita dimana tadi? 
 Tempat apa ini? Ak bertanya lebih dulu
 Oh ya, aku lupa bilang; selamat datang di pesta kematianmu! Hore! Semua orang gembira! Hujan konfeti turun deras, dan suara peluit ulang-tahun terdengar lemah. Sam memandang dengan bengong, dan Ak benar-benar diam, tak bisa berkata-kata. 
 Oh, lihat saja sendiri, orang-orang gembira sekali mengantarmu! Bilang hai, semua! 
  Vae memutarkan rekaman suara koor 'Haii!' di mic. 
 Balas dong! Mereka gembira sekali bisa terbebas darimu! Mungkin ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?
 "Aku benar-benar tak tahu mau bilang apa soal ini." Sam menggumam. 
 Bagus! Nah, sekarang selamat tinggal! Puluhan tangan mekanik menggapai tangan para patung dan membuat mereka melambaikan tangan. Sementara itu, asap kehijauan menghambur masuk dari ventilasi. Bahkan dengan helm, Sam mulai jatuh terbatuk-batuk, kesulitan bernafas. 
  Dia benar-benar tak tahu mau bilang apa soal ini- kematiannya tampak terlalu komedik, bahkan untuk ukurannya: dibunuh oleh robot psikopat yang secara teknis menyelamatkannya, menyelenggarakan pesta kematian buatan sendiri, lalu membunuhnya dengan cara begini? Bah, kematiannya sama kacau dengan kehidupannya. Lamat-lamat, dia mendengar Ak mengomel sendiri soal betapa seharusnya dia lebih berupaya menghalangi Sam untuk masuk. Meski begitu, suaranya terdengar makin jauh, jauh, dan jauh…
 BUM! Ledakan besar menyentakan Sam, membuatnya menengadah: gasnya tak lagi keluar. Di atas sana, sebuah lubang besar terbentuk, dengan siluet seseorang berdiri di atasnya. 
 "Kau benar-benar memudahkanku untuk masuk hari ini dengan segala keributan yang kau sebabkan tadi, jadi terima kasih." Suara serak seorang laki-laki tua menembus masuk. Dia menggeleng-geleng, mengulurkan tangan. "Kita impas sekarang, oke?" 

Kalau ini belum jelas, ini adalah hari tergila bagi Sam. 
Pikirannya berlari liar saat penyelamatnya menarik dia keluar. "Kau tak apa-apa?" Si penyelamat berbicara. Dia mengenakan helm kelabu yang pudar dimakan waktu, dengan lensanya menatap tajam ke arah Sam. Dia mengenakan baju dengan warna biru gelap, dengan syal hijau pirus. Tas yang dikenakan membawa banyak tabung berisi cairan ungu dengan banyak mesin terhubung ke sana. "Aku tak terlambat datang, kan?"
   Sam menggeleng lemah.
  "Bagus." Lensa helm si penyelamat berganti jadi muka senang, sebelum kembali menjadi datar seperti sebelumnya. Dia menoleh ke sekitar, menyaksikan ratusan robot yang berlomba-lomba mengejar mereka, menggetarkan jembatan ruangan. "Eh, senang bertemu denganmu, tapi aku harus pergi sekarang. Tunggu di sini, aku kembali sebentar lagi." Dia melompat ringan ke jembatan, mengeluarkan salah satu tabung dari tasnya. 
  Bagaimana kau bisa berada di sini? Ak bertanya terlebih dahulu. 
Si penyelamat tertawa, suaranya menggelegar di ruangan itu. "Ceritanya panjang, tapi aku gampangnya aku mencari seseo- sesuatu. Kubus keunguan, kau barangkali sudah sempat melihatnya di suatu tempat?" 
 "Vae?" Sam berkata pelan, teringat dengan kubus hitam sederhana yang sempat dia lihat saat pertama kali datang ke sini. Mata si penyelamat agak menyipit, tapi dia mengangguk. "Ya, dia. Bagaimana kau bisa bertemu dengannya? Aku mencoba ratusan cara dan tak ada yang berhasil- belum. " 
  "Ceritanya panjang." Kata-kata itu keluar dari mulut Sam, tanpa disadari mengikuti perkataan si penyelamatnya. 
 "Ha! Oke, aku takkan banyak bertanya, kalau begitu." Seluruh ruangan bergetar sendiri. Si Penyelamat tersentak, mengawasi sekitar dengan panik.  
 "Oke, kau sebaiknya cari tempat aman terlebih dahulu; jangan khawatir, mereka seharusnya fokus ke aku. Kemana arah Vae?" Sam menunjuk ke bangunan kubus yang sudah separuh hancur, tempat Vae terakhir berada. "Oh, pembicaraan kalian berakhir dengan baik, rupanya." Si Penyelamat merogoh tasnya lagi, kemudian ingat kalau dia sudah membawa tabungnya. Dia menoleh ke arah Sam. "Hati-hati di sana." 
 Sam mengangguk. Dia tak tahu kenapa, tapi dia tiba-tiba merasa tak enak. Seluruh ruangan bergetar lagi, dan kali ini lebih parah: debu berjatuhan dari langit, seluruh jembatan terlihat seakan mau runtuh, dan sesosok bayangan muncul entah dari mana, hendak menerkam Si Penyelamat. 
 "Awas!" Terlambat. Sosok Berjubah lebih dulu menghantam Si Penyelamat, membuatnya jatuh terpelanting. Sosok Berjubah melompat ke arahnya; tangan besinya mengepal. Suara baja patah segera bergema: tinju baja si Sosok Berjubah menghancurkan pegangan jembatan. Si Penyelamat berhasil berguling menghindar, syal hijaunya terurai berantakan. Tapi belum sempat dia melarikan diri, Sosok Berjubah kembali menyerang, tangannya berkilau terkena cahaya lembut dari tangki-tangki penyimpan cairan itu. 
 Jembatan dipenuhi bunyi tinju dan besi beradu sementara kedua sosok itu bergumul, meninju dan menendang, mengunci dan melepaskan diri dari cengkeraman lawannya. Di kejauhan, para robot segera menghampiri, dentang langkah mereka yang monoton bagai detak jarum jam yang terus maju, tak peduli apa yang menghalangi. Jika semua robot di seluruh fasilitas menyerang, akan susah bagi siapapun untuk melarikan diri, si Penyelamat sekalipun. 
 Di atas, Sam merasa tercabik. Sebagian dirinya, Ak, dan si Penyelamat menyuruhnya untuk tetap diam dan tak menarik perhatian. Tapi dia tahu penyelamatnya takkan punya kesempatan bila ditinggal sendirian. 
 Tidak, tidak, tidak. Sam mengingatkan diri sendiri, memaksa kakinya untuk duduk. Jangan ikut campur, lihat betapa banyak masalah yang terjadi karena dia terlalu ingin tahu dan masuk ke sini. 
  Bunyi hantaman keras menarik perhatian Sam. Si Penyelamat terlontar menghantam pegangan tangga, sementara Sosok Berjubah menghampiri.  
  Sam menggertakan gigi; persetan soal berdiam diri, Si Penyelamat bahkan tak bertahan melawan Sosok Berjubah, apalagi begitu Sosok Berjubah kedatangan bala bantuan satu batalion robot itu. Mengabaikan peringatan Ak, Sam melompat turun, bersiap berlari menuju kekacauan. 
 Belum sempat Sam melakukan apapun, banyak hal terjadi sekaligus: Sosok Berjubah menerkam, Ak mencoba menghadang Sam dengan mendistorsi penglihatannya, dan getaran ketiga mengguncang seluruh ruangan. Bagai sebuah tuas tak terlihat baru saja ditarik, semua benda di ruangan -jembatan, tabung kaca, dan kubus-kubus ruangan semuanya melayang begitu saja, bergerak seperti terjebak dalam pusaran aneh, semakin lama semakin cepat dan tak terkendali.  
  Tak peduli dengan segala kekacauan yang tengah terjadi, si Sosok Bertudung menerkam ke Si Penyelamat. Entah bagaimana, Si Penyelamat berhasil menghindar, melompat ke salah satu tiang mencuat sementara Sosok Bertudung melaju menghantamkan kepalanya ke pegangan jembatan. 
   “Hah, tadi lumayan seru, kau tahu. Sayang harus berakhir.” Sam mendengar Si Penyelamat berkata, mengeluarkan tabung cairan ungu yang dia bawa dan melemparkannya ke kaki si Sosok Bertudung. “Selamat tinggal!” 
 Bum! Ledakan besar terjadi ketika tabung kaca itu menyentuh lantai dan isinya tumpah, menjatuhkan si Sosok Bertudung jauh ke bawah. Sementara itu, Si Penyelamat melompat, membiarkan gelombang ledakan melontarkannya. Tawa gila keluar dari mulut Si Penyelamat sementara dia berputar di udara, mendarat di salah satu bagian jembatan dengan sempurna, membiarkan keping jembatan itu berpusar sedikit, melompat ke puing-puing yang tersisa seperti batu lompatan tanpa meleset sekalipun. 
 “Dia gila.” Sam bergumam, mengambil satu langkah lagi. Tanpa sadar, lantai di kakinya amblas dengan bunyi kelontangan yang nyaring. 
  Sam! Ak berteriak, tak mampu menolong. Si Penyelamat juga menoleh ke belakang dan berteriak; “Awas, Nak!” Tapi bahkan dia tak mampu menyeberangi jarak sebesar itu dan menyelamatkan Sam, tidak kali ini.
  Sam tak apa-apa. Dia berhasil menyambar salah satu pasak bangunan. Masalahnya, suara kelontangan dan teriakan Si Penyelamat cukup untuk menarik perhatian satu ruangan. Dan tiba-tiba, semua lensa kembali terpaku ke arahnya. 
  “Bunuh orang itu.” Suara yang familier terdengar. Sam menoleh ke arah sumber suara; si Sosok Berjubah memelototinya. Dia, entah bagaimana, berhasil menggapai salah satu kepingan jembatan dan menggunakannya untuk naik ke atas. Tangannya kembali menyentuh radio di telinganya. “Dan, kau, Vae, bawa aku ke syal hijau terkutuk itu.” 
 Siap. 
 Keping-kepingan jembatan melayang ke arah Sosok Berjubah, membentuk tangga setengah jadi yang segera dipanjat oleh Sosok Berjubah, mengarah ke Si Penyelamat. 
 Sam tak punya waktu untuk mengkhawatirkannya, tapi: seluruh robot memakukan lensa mereka ke dia. Mendengar komando Sosok Berjubah, mereka segera mengejarnya tanpa ampun: ratusan robot itu melompat dan melesat dengan bantuan kepingan jembatan rusak, mendekatinya dalam waktu singkat. 
 Awas, Sam! Atas!
  Sam mendongak. Salah satu robot melompat dari sana, mendarat dengan dentuman keras. Di tangannya, bilah kehijauan segera keluar, berkilauan. 
 Si robot menyabet ke arah kepalanya. Sam segera merunduk. Luput, nyaris saja, bilahnya membabat ujung antena helm Sam tanpa ampun. 
 Belum sempat Sam memulihkan diri, si robot menarik tangannya dan segera menebas Sam dari atas. Tak ada cara keluar saat ini, jadi Sam mengambil satu-satunya jalan kabur yang tersisa, lompat ke belakang. 
 Tangannya segera menggapai-gapai kepingan jembatan di dekatnya. Kalap, jarinya berhasil terselip ke lubang-lubang di sana. Mengabaikan rasa sakit yang menjalari jari-jarinya, Sam memaksakan diri untuk memanjat. 
 Bisakah kau berhenti melompat jatuh begitu? 
“Aku juga mencoba, Ak. Bukan cuma kau yang ingin begitu” 
 Percakapan mereka terhenti saat bilah kehijauan membelah dan menusuk keping jembatan yang mereka naiki. Robot lainnya berhasil mencapai Sam. Di belakang Sam, robot pertama menekukkan kakinya, siap melompat. Di belakang robot kedua, ada gerombolan robot lainnya, siap memeriahkan suasana. Cepat atau lambat, Sam akan kewalahan dan kehabisan tempat kabur. 
 Robot yang paling dekat memuntirkan bilahnya, membelah seluruh jembatan jadi dua. Sam segera melompat kabur lagi, berpegangan pada sebuah pecahan bangunan. 
  Hantaman keras mengguncangkan kaca itu. Robot lainnya. Sam terjun bebas, memuntirkan tubuh, melesat masuk ke sebuah ruangan kubus. 
 Di dalam kabin itu, berderet senapan dan tabung-cairan-ungu dijajarkan, semuanya berantakan. Tak ada yang menarik. Sam segera menutup pintu masuk, menghadang para robot yang mencoba mendobrak. Meski begitu, lensa Sam tiba-tiba bergerak sendiri, melihat sebuah lensa berlapis kebiruan yang tak dipakai dan tergeletak begitu saja. Lensa itu terhubung dengan banyak mesin yang tak Sam kenali. 
 “Ada apa?” Sam bertanya ke Ak, mati-matian menghadang pintu masuk dengan rantai yang dia temukan. 
 Lensa itu. Ak menjawab, masih menatap ke sana. Tolong pakaikan ke tubuhku yang lama. 
 “Hah?” 
 Kau dengar apa yang aku bilang, Sam. Ak berkata, jengkel. Tolong pakaikan. 
 Sam mengangkat bahu. Dengan satu tangan coba memblokir pintu, Sam mengeluarkan bola perak Ak dan mengeluarkan lensanya. Lalu, dia mencoba memasangkan yang baru ke Ak. 
 “Susah!” Sam berkata. “Aku tak bisa memasangkannya dengan satu tangan.” 
 Aku lakukan sendiri, kalau begitu. 
 “Eh- Bagaimana?”  
 Tangan mekanik keluar dari tubuh Ak saat Ak mulai mengendalikan tubuh lamanya. Dengan sepenuhnya buta, Ak meraba-raba, memakaikan lensanya sendiri. Begitu terpasang rapat, Ak mulai mengedipkan lensanya, melayang dan melihat sekitar. 
 Bagus, aku bisa melihat dengan ini. Tapi aku merasa agak- aneh. 
 “Aneh?” Sam bertanya, sementara hantaman tinju dan sabetan bilah mulai perlahan-lahan mengikis pintu yang dia jaga. 
 Ada banyak hal yang terbuka untukku sekarang. Ak menjawab. Seperti- 
 Sebelum Ak menyelesaikan kalimatnya, pintu dibobol. Salah satu robot berdiri di sana, mengacungkan bilah ke mereka. Sam terpelanting ke seberang ruangan. 
  Sebelum robot itu sempat menyerang, Ak menancapkan pandangan ke arahnya. Robot itu berdiri kaku, mengeluarkan kedip-kedip dan desing aneh, sebelum tertunduk mati. Sedetik kemudian, robot itu kembali bangun dan berbalik; menyabet dua rekannya yang hancur sebelum mereka sadar apa yang terjadi. 
 Jadi begitu. Suara Ak kembali terdengar, tapi muncul dari robot itu. Lensa itu bukan hanya memungkinkan aku untuk melihat, tapi juga mengimplementasikan programku ke berbagai sistem. Akan berguna, kurasa? 
 “Wow.” Sam menjawab, bolak-balik melihat tubuh lama Ak dan robot itu. “Apa kau bisa- 
 Robot itu memotong perkataan Sam dengan berkedip-kedip dan mati sebentar, sebelum kembali menyala. 
 Oh, ada keterbatasan waktu, rupanya. Suara Ak terdengar agak patah-patah. Cepat, naik ke tanganku. Dan pegangi tubuh lamaku. Kita harus keluar secepat mungkin. Ak menarik kembali bilahnya dan menyambar tubuh Sam. 
 Hati-hati.
 Sebelum Sam sempat menyadarinya, Ak segera meluncurkannya, jauh melewati ratusan robot yang melotot ke arahnya. Saat dia melambat, Sam mendarat di tepat salah satu tabung ungu raksasa; yang entah bagaimana, semuanya tak tersentuh. 
Belum sempat memproses apa yang terjadi, salah satu robot melompat tepat di depan muka Sam. Bilahnya teracung, segera menusuk ke arah Sam. Kesalahan besar. Bilahnya menusuk udara kosong, terus maju hingga menghantam kaca tabung. Cairannya memancar keluar dari retakan tabung, menghantam si robot malang. Bahkan walau tak terkena langsung, Sam bisa merasakan panasnya. Robot itu segera terbakar dan perlahan-lahan meleleh menjadi tumpukan besi yang tak bisa dikenali.  
  Itu bukan masalah utama. Seiring berkurangnya cairan ungu itu, makhluk di dalamnya mulai bergerak. Bernafas, membuka mata, melihat semuanya. Selama Sam mengamati robot itu meleleh, si raksasa mulai mengepalkan tangan, dan- 
  BUM! Guncangan keras lainnya menggetarkan seisi ruangan. Sam melihat ke belakang. Si raksasa sudah sepenuhnya bangun, meretakan kacanya dalam sekali pukul. Bahkan para robot berdiam, melihat ke arah tangki dengan waswas. 
  Sam, kita harus pergi dari sini. Ak berbisik ke Sam, melayang mendekat. Dia segera mengeluarkan tangan mekaniknya dan menggapai bahu Sam. Sekarang, selagi semua orang teralih-
 Sebelum Ak sempat menerbangkan Sam keluar, sudut mata Sam menangkap bayangan yang bergerak secepat kilat ke arahnya. Dia menoleh dan mendengar Si Penyelamat berteriak; “AWAS, NAK!”, tapi terlambat.
   Tangan baja dingin terasa mencengkram lehernya, punggungnya bergesekan dengan lantai baja saat dia terseret oleh si Sosok Berjubah. Sam berontak, sementara di belakangnya, Ak mengeluarkan tangan mekaniknya, menghantam Sosok Berjubah dari belakang. Mengaduh kesakitan, Sosok Berjubah melepaskan Sam. 
  Sam berdiri pusing, berpegangan pada pembatas jembatan. Di belakangnya, Si Penyelamat mencoba mencapainya, tapi para robot bersama-sama menghadang dirinya. Sebelum Sam sempat mencerna apa yang terjadi, si Sosok Berjubah berdiri, meninju kepalanya. Sam segera merunduk menghindar, tapi si Sosok Berjubah ikut merunduk, menendang kaki Sam. Anak itu segera jatuh kehilangan keseimbangan, 
 “Tak bisa kabur lagi sekarang, eh?” Si Sosok Berjubah menegakkan tubuh, mengibaskan tangannya. Mesin di tangannya mendesing dan memanas, membuat udara di sekitar bergetar. Tangannya mengeluarkan bilah perunggu kecil di setiap jari, seperti cakar kucing paling berbahaya yang pernah Sam lihat. Sebelum dia mendekat, guncangan hebat kembali menggetarkan lantai, 
 Si Sosok Berjubah kehilangan keseimbangan, sementara pecahan kaca menghujani lantai. Di atas sana, si raksasa berjalan keluar, memusatkan mata ke Sosok Berjubah di bawahnya. Bahkan saat si raksasa sudah sepenuhnya keluar, Sam tetap tak menemukan cara untuk mendeskripsikan tubuhnya. Sosoknya yang menjulang tinggi tertutup bayangan, hanya menunjukan tumpukan sisik yang tumpang tindih. Tangannya mengepal, sementara si Sosok Berjubah panik menekan radionya- “Semua unit, ada pembobolan tahanan di tabung 903-”
 Sam terpaku melihat pemandangan di depannya untuk menyadari tangan mekanik Ak yang menggaet ujung bajunya dan menerbangkan mereka kabur. 
 Dari atas, terlihat betapa banyak kekacauan yang baru saja mereka buat: jembatan yang melayang kacau, nyaris tak terhubung satu sama lain, satu tabung raksasa pecah, ratusan robot yang tersebar tak teratur. 
 Seseorang melesat ke arah mereka. Sam dikejutkan saat seseorang itu menyambarnya dan Ak, khawatir si Sosok Berjubah kembali mengejarnya. 
 "Jangan berisik." Suara Si Penyelamat memasuki antena pendengaran Sam. "Kondisi sudah terlalu kacau- kita pergi sekarang." 
  “Bagaimana dengan Vae? Kau berhasil mendapatkannya?” 
 “Pfft, tidak. Tapi jangan khawatir; aku sudah mencoba menerobos masuk berjuta-juta kali, aku memang tak berharap banyak. Kita bisa datang lagi kapan-kapan.” 
 Sebelum Sam sempat bertanya lebih jauh, mereka terjatuh ke atas- jatuh ke atas? Kakinya menapak atap ruangan. Sam menengadahkan kepala, menatap dasar ruangan terletak di atasnya. Semuanya jungkir balik. 
 “Gravitasinya kacau, Vae pasti sedang mencoba sebisa mungkin untuk menghadang monster itu- dan kita- kabur.” Si Penyelamat menunjuk si raksasa yang dikerumuni para robot, sebisa mungkin menghadang dia. Sam bergidik. Bahkan dari atas sini, dia bisa melihat Sosok Berjubah melotot ke arahnya, walaupun dia cuma titik kecil.  
 “Mundur.” Si Penyelamat mengeluarkan sebuah tabung besar dari tasnya, menancapkannya ke atap. Dengan satu gerakan cepat, dia menekan tombol kecil di atas tabung dan melompat ke belakang. 
 Si tabung meledak hebat, mengirimkan angin panas ke mana-mana. Saat Sam membuka mata, lubang besar terbentuk di atap, sementara air laut perlahan-lahan membanjir dari sana, menghujani jembatan di bawah dengan air asam. Sirine meraung-raung di ruangan itu. 
 “Naik ke sana, pergi.” Si Penyelamat menunjuk. “Aku akan menahan mereka sebelum menyusul." 
 "Tapi bagaimana dengan kau?" 
 "Aku takkan kenapa-kenapa." Si Penyelamat segera melompat pergi, mengeluarkan tabung-bomnya yang lain. Sam melihat dia melompat dari reruntuhan demi reruntuhan dan melempari para pasukan robot dari kejauhan, mengacaukan upaya mereka untuk mengamankan si monster. 
 Dia benar, Sam. Ak menyela. Kita pergi. Sekarang. 
 "Tapi-" Sebelum Sam menjawab, Ak meraih bahunya dan menerbangkannya. Sam melihat untuk terakhir kalinya ke fasilitas terkutuk itu: lantai yang setengah dibanjiri air berasam, potongan jembatan yang melayang ke sana-sini, si raksasa yang melempar para robot penjaga seperti mainan, dan Sosok Bertudung yang melesat melewati itu semua, berupaya mencegah Si Penyelamat mengacaukan operasi pengamanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis

Bab 6

Bab 7