Bab 3


  Satu minggu di kota baru, harapan Sam terwujud, tapi tidak dengan cara yang disukainya. Ak memang berhenti mengoceh soal sistem kota, tapi dia tak bisa lama-lama di kabin. Ayah segera sibuk dengan pekerjaannya, dan lama-kelamaan Ak harus ikut dengannya untuk membantu dengan apapun yang ayahnya lakukan. Sam sendiri dikirimi satu unit robot dari pusat kota, tapi tak ada apapun yang dilakukan guru-robotnya selain berbicara datar soal subjek yang dipelajari dengan cara yang akan membuat Ak terdengar seperti seorang pemimpin teater. 
  Bagaimanapun juga, tak setiap hari dia harus terjebak di dalam kabin dengan robot itu. Kadang-kadang Ak atau juga ayahnya bisa libur, dan mereka menyelamatkan Sam hari itu, walau yang paling bagus yang mereka bisa lakukan hanya keluar melihat-lihat kota. IrAu jauh lebih besar dari yang mereka kira, penuh dengan labirin yang terdiri dari banyak lorong-lorong tinggi. Ada museum yang memamerkan tumbuhan dan benda misterius dari kedalaman laut, hingga penangkaran hewan-hewan bawah laut di sana. Tapi bahkan dengan kartu izin ayahnya sekalipun, banyak ruangan-ruangan yang tak bisa mereka akses, meninggalkan imajinasi Sam berlari liar menebak-nebak apa yang mereka lakukan di dalam. 
 Hari itu; untungnya, Ak bebas tugas. Dengan gembira, Sam melompat keluar kabin. Ak melayang mengikutinya, memastikan dia tak terjebak dalam masalah. 
  
Langkah Sam bergema di lorong panjang. Dinding kota yang hitam memantulkan cahaya hijau-emas dari lampu di atas, dan celah-celah dinding. Lorongnya tinggi menjulang, membuat Sam merasa diapit dua buah tebing besar, sementara dia sendiri terjebak di dasar. Sebuah pintu terletak di pinggir, dengan pemindai di sampingnya berwarna hijau, yang berarti bisa dimasuki untuk umum. Iseng, Sam berjalan masuk. Suara obrolan segera menyambutnya. Orang-orang dengan seragam kerja yang beragam duduk di meja atau mengantri di depan suatu konter, sementara beberapa robot lalu-lalang. Tampaknya semacam kafetaria. 
 “Aku tak pernah tahu ada tempat ini.” Sam berkata antusias, melangkah ke dalam untuk melihat lebih jelas. Sebelum ini, makanan mereka hanya diantar oleh robot langsung ke kabin. Tak ada mereka harus datang begini. 
  Ada, tapi tak diperlukan. Ak menjawab, suaranya entah bagaimana terdengar di tengah keriuhan. Dengan peringkat kelas atas milik Ri’, kita punya disediakan pelayanan yang istimewa, seperti gurumu dan pengantaran makanan. Sistem mengatakan informasi keberadaan tempat ini dan fasilitas lain tak relevan. 
 "Fasilitas lain?" Sam bertanya. Apa saja yang disembunyikan dari dia selama ini? 
  Kafeteria, toilet umum. Area pembangunan kota juga termasuk ke sini, entah kenapa. 
 "Area pembangunan?" Sam bertanya lagi, benar-benar tertarik kali ini. Dia tahu kalau kota ini baru dibangun sebagian; tapi dia tidak pernah melihat bagaimana proses pembangunannya. Sam memutar tubuh di kursi, meloncat turun. "Antar aku ke sana." 
 Ak bergetar bimbang. Peringatan: area pembangunan termasuk ke salah satu zona berbahaya- orang tanpa kepentingan tak diharapkan masuk… 
 “Ya, ya, ya.” Sam melambaikan tangan memotong penjelasan Ak. “Tapi secara teknis, dengan kartu izin Ayah, aku bisa masuk ke sana, kan?” 
  Robot perak di depannya bergetar ragu. Seharusnya, iya. Tapi memasuki area pembangunan tetap membutuhkan alasan yang jelas- 
  “Apa rasa ingin tahu termasuk?”  
 Kau tahu jawabannya apa, Sam. 
 “Iya, aku tahu pasti jawabannya iya, kan?” 
  Negatif; jawaban yang kuharapkan adalah ti- 
  “Bagus, antarkan aku ke sana, kalau begitu. Ini perintah.” 
 Lensa Ak berkedip-kedip, tapi dia tak bisa melawan perintah langsung. Ikuti aku, dan pastikan kalau helm milikmu siap. Sistem kota memberitahu kalau area pembangunan masih digenangi air laut. 
  Sam mengangguk, menyambar helmnya yang tergeletak di lantai. Dia sudah belajar kalau semua orang di kota berkeliaran mengenakan setelan bawah laut lengkap; dengan banyak bagian kota yang masih belum dikeringkan. Hanya dia saja yang suka melepas helmnya, panas. 
 Aneh, begitu mengenakan helmnya, kantin tampak lebih rapi dibandingkan biasanya. Remah dan peralatan makan kotor tampak lenyap di lensa super tajam helmnya. Tangan Sam memeriksa meja yang kosong, memastikan matanya tak menipunya, saat dia melihat ke sekitar dan sadar kalau Ak sudah menghilang. Tak mau tertinggal, Sam berlari keluar kantin. 
 Di luar, Ak tak terlihat dimana-mana. Hanya lorong kelam berlika-liku dan orang-orang yang berjalan, semuanya tak mirip dengan robot perak berlensa satu yang dicarinya. 
  Sam menggeram, memutuskan untuk mencoba mencari jalan pulang. Baru dia melangkah, helmnya bergetar hebat. 
 Sam, harap tetap berada di posisimu saat ini. Suara Ak terdengar masuk, bergetar seiring setiap kata. Aku akan mencoba mencari lokasimu- dimulai dalam 3, 2, 1- 
  Pencarian lokasi? Sam hendak bertanya, tapi memutuskan menyimpannya untuk nanti. “Tak perlu; tak perlu. Aku ada di depan kantin tadi.” 
  Dimengerti. Ak menjawab. Aku akan ke sana. Tapi, tolong, jangan kemana-mana. 
 “Paham.” Sam mengangguk, walau dia tahu Ak tak bisa melihatnya. Robot itu masih bicara satu-dua kata, memastikan kalau dia benar-benar tidak akan pergi, sebelum memutus komunikasi. 
 Benar saja, walau tak terlalu senang, Ak segera datang. Tubuhnya terus mendengung, mengeluarkan suara seperti nyamuk; dan Sam bisa bersumpah kalau tubuh Ak mengeluarkan asap tipis. Samudra, aku minta, dalam kondisi apapun, untuk mengikutiku dalam perjalanan kita ke area pembangunan. Juga, di masa mendatang, harap fokus dan dengarkan saran dan instruksiku- 
  Meskipun begitu, berkat keajaiban dunia kedelapan, Ak akhirnya bisa berhenti mengomel. Mereka segera berangkat ke area pembangunan, dengan Ak terus menerus menoleh ke belakang untuk memastikan dia tak kemana-mana.  
 “Jangan khawatir, Ak, aku tak kemana-mana. Lagi pula, kau bisa mencari lokasiku, bukan?” 
 Negatif. Lebih baik langkah itu dijadikan tindakan terakhir. 
“Tapi bagaimana kau bisa melakukannya? Ayah memasang pelacak atau sesuatu di helmku?” 
  Bukan. Sistem kota sudah mendata dan melacak posisi setiap unit helm. Aku tinggal menghubungimu dengan data yang ada. 
 “Data apa saja yang ada di sistem kota?” 
 Banyak; mayoritas soal mesin dan barang-barang yang ada di kota. Informasi seperti itu terbukti berguna, seperti dalam kasus tadi. Tapi bahkan kalau helm milikmu tak bisa diakses, aku masih bisa melacak keberadaanmu dengan kamera dan sensor keamanan lainnya.
  Bahkan jawaban Ak belum memuaskan Sam. Sistem kota tampaknya punya lebih banyak data dibandingkan yang dia pikir.   
   Sam melihat sekitar. Dia sekali lagi sedang menyeberangi lorong-lorong yang membentang, seperti perpaduan labirin dan terowongan. Lantai baja kelabu yang polos, berdentang dipenuhi langkah kaki manusia dan robot yang lewat. Hingga akhirnya Ak berbelok, mengarahkan mereka untuk memasuki pintu tahan air, keluar ke laut. 
  Sam menahan teriakan kaget saat memasuki air: tubuhnya terasa melambung jatuh alih-alih menjejak lantai solid. Dia mati-matian menggerakan tubuhnya dengan liar, gelembung mengambang perlahan ketika dia berupaya untuk kembali seimbang. Kepalanya terasa menghantam sesuatu, bergetar. Suara kaca retak terdengar.
  Berhenti, Sam. Suara Ak bergetar aneh di dalam air. Coba buka matamu. 
  Menuruti saran Ak, pelan-pelan Sam mengintip ke luar. Mereka berada di tepi suatu lereng, tempat pintu-tahan air dipahatkan, menjorok keluar dari tebing. Dia pasti menabrak itu tadi. Lensanya terlihat retak-retak. Dasar laut terletak jauh di bawah, tapi mereka mengambang turun amat perlahan untuk apapun yang berbahaya untuk terjadi. 
  Suara dengungan monoton yang familiar kembali memasuki antena pendengaran Sam. Ak melayang di sampingnya, sama seperti yang dia lakukan di udara. Tubuhnya yang perak berkilau dan lensa birunya amat tampak mencolok di antara bebatuan yang hitam-kelabu. 
  Bagus. Helmmu harusnya masih berfungsi. Satu hal yang tak terlalu menyebalkan dari Ak, robot itu tak pernah mengejeknya, tak peduli sememalukan apa tindakannya. Coba biasakan dirimu untuk bergerak di area ini; kita takkan banyak menjejak tanah. 
  Sam mengibaskan kedua tangannya. Dengan terkejut, tubuhnya melesat ke atas karena gerakan kecil itu. Lebih banyak gelembung mewujud di sekitarnya, memantulkan helmnya yang berkilau di tengah pekatnya dasar lautan itu. 
   Lihat ke bawah sana, Sam. Ak menyela, mengarahkan lensanya ke bawah. Di situ area pembangunan. 
  Sam menoleh ke bawah. Di tengah sana, lampu kehijauan menerangi dasar laut; tapi bahkan dengan segala itu, Sam tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sana. Ak segera melayang turun, sementara Sam mengikutinya dengan susah payah di belakangnya. 
  Begitu mereka turun cukup ke bawah, baru terlihat bagaimana tempat itu jelas merupakan area pembangunan. Orang-orang lalu lalang, dengan hologram cetak-biru di tangannya. Robot-robot besar, lebih besar dibandingkan robot manapun yang pernah dilihat Sam di daratan sana ataupun di kota, tampak lalu lalang dan berfungsi sebagai alat berat: menghancurkan karang yang menghalangi, memasang tiang penyangga, membawa bebatuan untuk pembangunannya. Kereta kecil tiba-tiba muncul dari terowongan, membawa baja dan bebatuan aneh, yang tampaknya sama seperti yang dipakai di lorong-lorong kota. Orang-orang segera mendekati kereta itu, mencocokannya dengan daftar di tangan mereka, sementara memanggil para robot untuk membawakan barang-barang itu. 
 Kereta itu merupakan unit pertambangan mandiri. Ak mengambang maju, menyadarkan Sam untuk bergerak. Kusarankan untuk jauh-jauh dari rel, untuk jaga-jaga. Sam refleks melihat ke kakinya, dan segera melangkah menjauh ketika sadar merek berada di tengah rel dari tadi. 
 Hati-hati dengan potongan besi atau kerikil tajam. Jika bajumu robek dan air masuk- 
 “Ya, ya, aku tahu.” Kenapa setiap robot selalu memperingatkan soal air asam? Dia tak sedang cari mati juga, tahu.  
 Sam mengedarkan pandangannya ke sekitar lagi. Dia segera melihat lorong kota yang sedang bangun: kerangka yang sudah diletakkan di tempatnya, dengan dinding yang sedang dibangun perlahan. Area yang sudah dibangun disekat dengan pintu anti-air, mencegah air masuk dan menyulitkan proses pembangunan. Para pekerja manusia berkeliaran di air dengan mudah, melesat ke sana-sini dengan bantuan kait untuk memeriksa hasil pekerjaan para robot. 
   Ak dengan senang hati menjelaskan ini-itu jika ditanya, mengoceh panjang-lebar, lebih dari yang sebetulnya diperlukan. Tak ada pekerja yang menghiraukan mereka sejauh ini. Berkat helm itu, dan ditambah kehadiran Ak yang membuatnya tampak seperti salah satu orang penting dari kota: tak ada orang yang akan menyangka dia seorang anak-anak. 
   Saat Ak sibuk menjelaskan soal stasiun pengisian tenaga para robot penjaga, salah satu kereta tiba lagi di sana. Anehnya, tak ada pekerja yang mengerubunginya kali ini. Isi kereta itu lain, penuh dengan tabung berisi cairan keunguan yang berbinar seakan terbakar. 
   "Ak, yang dibawa kereta itu apa?" 
 Kereta mana?    
  "Kereta itu-" Sam menunjuk. Lensa Ak terlihat memandang ke arah kereta itu, membesar dan mengecil seperti pupil seekor kucing. Suara mesinnya terdengar lebih keras dibanding biasanya, hingga mereda. 
  Negatif. Ak berkata pada akhirnya. Aku tak mendeteksi keberadaan kereta apapun: aku sudah memakai kamera biasa, sensor panas, bahkan memeriksa data unit kereta dari pusat. Tak ada kereta di sini, semua unit sedang berada di pertambangan atau diistirahatkan. Mungkin itu ilusi cahaya, Sam. Lagi pula, lensamu rusak, kan? Barangkali itu penyebabnya. 
  "Mana ada." Sam mendengus, datang ke arah kereta itu. Ak mengikutinya, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Menembus kerumunan orang, menghindari boks kargo yang diletakkan sekenanya di lantai. 
 Coba rasional, Sam. Ak menyela, menyusul Sam. Apa ada orang lain yang tampaknya melihat kereta itu? Sam melihat ke sekitar. Tak ada orang yang mendatangi atau tampaknya sadar soal kereta itu, memang. Tapi mengingat para pekerja disini acuh tak acuh pada apapun yang terjadi, Sam mengajak Ak untuk mengikuti dirinya mengejar kereta tersebut. Sam berlari di depan, diikuti oleh Ak. Sambil berlari, Ak mencoba menghalau Sam untuk berhenti mengikuti kereta. 
 Dentang baja tiba-tiba bergema, menggetarkan lantai batu di sekitar mereka. Satu sosok besar muncul dari balik karang, siluetnya menjulang berlatarkan laut kelam. Cahaya merah berkedip-kedip muncul di kepalanya, menerangi dataran tandus di sekitarnya. 
 Sam segera merunduk, meraih Ak dan menurunkannya secara paksa ke bawah. 
 "Diam kalau kau tak mau kita terkena masalah." Sam mendesis saat Ak bergetar, hendak bicara. Sam mengintip ke luar. Bahkan dengan lensa helmnya, dia tak bisa menangkap dengan jelas sosok itu, yang sedang berjalan ke arah kereta. 
 Ada apa? Ak terdengar bertanya dengan suara kecil, melayang ke samping Sam. 
 "Kau tahu itu benda apa?" Sam balik bertanya ke arah Ak. Mereka bisa melihat sosok itu dengan lebih jelas: kepala kotak dengan cahaya merah menyala di lensanya seperti lampu, tubuh bungkuk terbalut besi hitam yang memantulkan cahaya merah di lensanya itu, hingga kakinya yang bengkok. "Aku tak pernah melihat unit robot yang itu. " 
 Unit robot yang mana? Ak kembali bertanya, mengikuti pandangan Sam. Anak laki-laki itu balas memandang ke arah Ak dengan curiga. "Kau tak sedang bilang kalau kau tak bisa melihat robot itu juga, kan? " 
 Sebetulnya, memang itu yang sedang kukatakan. 
  Sam menggeram. Oke- ini mulai tidak lucu. Bagaimana bisa Ak tak melihat bukan hanya satu, tapi dua benda itu? Barangkali Sam memang sudah mulai gila, mengikuti ayahnya dan Ak. Kalau iya, dia akan memberikan penilaian bintang satu ke rumah sakit jiwa kota IrAu atas pelayanan yang tak maksimal. "Kita bagaimana kalau begitu?" Sam menoleh ke Ak. 
  Saran solusi ditemukan: Sam, tolong beri akses penuh ke helmmu. 
  "Hah?" 
 Demi kemudahan kedepannya, tolong ikuti, Sam. 
 "Oke-oke: aku memberimu akses penuh ke helmku- itu cukup?" 
 Ak bergetar kecil sementara mesin di dalamnya menggerung lebih keras.
 Itu cukup. Suara Ak kembali terdengar, tapi kali ini; suaranya terdengar lain, bergaung dan terasa lebih dekat. Tubuh Ak hanya mengapung tak bergerak di tempatnya yang semula. Adaptasi tubuh baru- 100%. Tolong lihat kembali ke kereta tadi, Sam. 
  "Kau- ada di helmku, Ak?" Sam bertanya, mengetuk-ngetuk lensanya. Dia menjulurkan kepalanya dan melihat ke luar. "Kereta dan robotnya masih di sana- apa kau bisa melihat sesuatu sekarang?” 
  Negatif, kontrol lensa sedang dalam progres. Ak menjawab. Analisa menunjukan kalau lensamu menerima kerusakan benturan yang relatif serius; salah satu lapisan lensa hancur total. Bagaimana ini bisa terjadi, Sam?  
 “Oh, entahlah- Menabrak sesuatu, kurasa.” Sam melihat robot itu sudah berada di kereta, sibuk dengan apapun itu yang ada di gerbongnya. “Eh, Ak; bisa lebih cepat?” Sam berbisik. “Robot itu sedang mengambil sesuatu ke kereta- aku tak tahu apa yang dia ambil atau apa yang dia lakukan sekarang.” 
 Tenang- kontrol lensa 98%, 99%- 100%. Ak terdiam sejenak, sementara Sam melihat lensanya bergerak sendiri, mengatur ulang fokusnya. Melihat helmnya bergerak tanpa kendalinya membuat Sam merasa kurang nyaman. 
 Kau benar, Sam. Akhirnya Ak kembali berbicara, mengarahkan lensa mereka ke kereta itu. Ada unit tak dikenal di sana- dan mereka tak bisa kudeteksi dengan tubuhku yang lama. Apakah aku perlu melaporkan pihak keamanan? 
 “Jangan- belum.” Sam balas berbisik, puas begitu Ak mengakui kalau dia memang benar. “Itu bisa memancing keributan dan ayah akan membunuh kita, kereta itu bisa-bisa sudah pergi saat mereka datang, dan bisa-bisa pihak keamanan tak bisa melihat kereta itu, seperti kau. Ngomong-ngomong soal itu, kau sudah tahu kenapa kau tak bisa melihat kereta itu tadi?” 
 Belum. Selain kerusakan pada lensa, lensamu tak berbeda dengan milikku. Ak menjawab, sembari membesarkan gambar di lensa mereka, menampakan sekrup-sekrup kereta yang berkilat. Tiba-tiba, si robot yang membungkuk di atas kereta mulai bergerak. Dentang baja terdengar bergema saat si robot berdiri, mengeluarkan kotak-kotak, beberapa berisi tabung cairan ungu aneh yang membara tadi. Yang lain antara sama-sekali tak bisa dikenali atau terselubungi kain hitam. Penasaran dengan apa saja yang dibawa si robot, Sam menjulurkan kepala semakin keluar, secara tidak sengaja menendang sebuah kerikil. Suaranya lebih keras dari yang Sam harapkan, memantul-mantul sebelum terdiam. Kepala si robot tersentak, sebelum perlahan menoleh ke belakang.  
  Sembunyi. 
 Sam menarik kepalanya kembali ke bawah karang, sementara si robot mengedarkan pandangannya. Lampu merah yang berada di atas kepalanya membara, memantul di karang-karang hitam. 
 Selama sesaat, tak ada yang bersuara. Bahkan tak terdengar hiruk-pikuk kesibukan area pembangunan, yang terlihat seperti setitik cahaya yang jauh dari tempat Sam berada sekarang. 
 Dentang ribut kemudian memecahkan keheningan saat banyak hal terjadi tiba-tiba: kereta mendesis kencang, disusul oleh suara piston bergerak dan roda beradu dengan rel yang terdengar semakin jauh seiring waktu; langkah-langkah sang robot yang berdebam berat, menggetarkan tanah; dan suara suatu mekanisme yang asing, seperti sesuatu yang berat bergeser, yang segera terpotong oleh suara berdentang. 
 Apa dia sudah pergi? Giliran Ak yang bertanya. Apa yang terjadi?   
Sam menggeleng, sebelum menjulurkan kepala keluar lagi, jauh lebih hati-hati kali ini. Pemandangan yang menyambutnya mengejutkan dia dan Ak. 
  Kereta dan robotnya hilang, menyisakan rel kecil yang nyaris tak terlihat dan bekas tapak kaki yang sangat dalam. Sebagai gantinya, sebuah lubang tingkap menganga, cahaya hijau memancar dari dalamnya. Pintunya yang terbuka dipinggirkan, terhubung dengan kawat dan berbagai tuas. 
  Sam menatap ke sekeliling, mencari keberadaan si robot. Begitu sudah dipastikan tak ada siapa-siapa, Sam menapakan kaki keluar. 
 Sam. Ak, tentunya, menyela. Aku tidak menyarankan kau untuk masuk ke sana, apalagi tanpa ijin. Memasuki wilayah tak dikenal adalah tindakan yang tidak dianjurkan oleh protokol keamanan kota, dan- Sam! 
 Tidak menggubris perkataan Ak, Sam mendekat. Meski begitu, gambaran lensanya tiba-tiba kacau, terdistorsi dan meliuk dan memburam dan mengacaukan penglihatannya, membuat dia tak mampu melihat sekitar. 
 Harap dengarkan, Sam. Suara Ak menerobos masuk, sementara lensa Sam kembali beralih normal. Memasuki ruangan yang kita tak ketahui isinya saja sudah berbahaya, apalagi memasukinya tanpa pikir panjang. Apa kau sudah mempertimbangkan soal ini sebelumnya? 
 Sam membuka mulut untuk menjawab, tapi perkataannya terpotong oleh deru mesin yang aktif. Pintu tingkap itu mulai menutup. 
 “Aku tak punya waktu untuk berdebat, Ak. Aku akan masuk, terserah kau bilang apa." 
 Kalau begitu, paling tidak bawa tubuhku. Ak menjawab. Aku tidak bisa mengendalikannya saat berada di helmmu, dan meninggalkannya begini tampaknya bukan opsi yang bagus. 
 Sam butuh waktu untuk memahami apa yang Ak sedang bicarakan. Begitu ingat, dia segera mengambil tubuh Ak yang mengambang tanpa kendali, menggenggamnya di tangan kiri. Setelah selesai, dia segera berlari ke pintu. Pintunya sudah hampir sepenuhnya
 "Cepat, cepat, cepat!" Sam berbicara sendiri, berlari menuju pintu itu. Begitu dia memasuki gerbang, Sam langsung kehilangan keseimbangan: di dalam sudah merupakan ruangan kering. Dia segera terjatuh, berkelontang saat helmnya beradu dengan lantai. 
  "Aduh!" Sam berlutut, sebelum bangkit berdiri. Kalau begitu caramu berkeliaran, Ak berkata, tidak mengejutkan bagaimana lensamu bisa berakhir dalam kondisinya sekarang.
 "Diam, Ak." Sam mengedarkan pandangan ke sekitar. Lorong berdinding kelabu dan hitam, dengan pilar persegi datar melintang dari atas ke bawah. Desainnya cukup mirip dengan standar kota IrAu. Yang mengganggu Sam adalah deretan tabung dengan cairan ungu yang dia lihat tadi, menampung makhluk-makhluk yang dia tak pernah lihat sebelumnya. Mereka terlihat kabur, tapi Sam bisa melihat tangan dan kaki berselaput dan sungut mencuat. Semuanya meringkuk tak bergerak, tapi tampak sewaktu-waktu bisa bangun dan menerobos keluar. 
 "Ak, kau tahu ini tempat apa?" Sam berbisik. Tapi bahkan dengan begitu, suaranya tetap terasa terlalu keras, dengan koor gema bisikannya menjawab balik. 
 Alih-alih menjawab, Ak hanya membuat helm mereka bergetar; sambil menunjukan gambar suara yang disilang. 
 "Kau boleh bicara sekarang." Sam membalas tak sabaran. 
  Asumsiku: semacam fasilitas penelitian. Tapi, pencarian ke data kota IrAu tidak mengindikasikan keberadaan tempat ini. 
 "Ya, kau barangkali bahkan tak bisa melihat tempat ini." Sesuatu terlintas di pikiran Sam. "Kalau kau melihat dari lensa milikmu, Ak, kau akan bisa melihat apa memangnya?” 
  Bisa dicoba. Tubuh Ak bergetar menyala di tangan Sam. Si robot melayang sembari membuka lensanya. Sesaat tak terjadi apa-apa sementara Ak mengutak-atik lensanya, mencoba memfokuskan pandangannya. Mesin Ak tiba-tiba mengeluarkan suara desing yang semakin keras, hingga asap tipis membumbung keluar. m4Qr01o0:fG7- PERINGATAN: TaK terpc-h-an -istEM eRrOR. 37 v-
  “Ak! Ada apa?” Sam mengetuk tubuh Ak. Panas. “Hentikan apapun yang kau lakukan sekarang- ini perintah!” 
  Mendengar itu, tubuh Ak berhenti bergerak, kaku. Sebelum; tentu saja; Ak jatuh ke lantai seperti bola perak normal. Untungnya, Sam berhasil menangkapnya.
 Negatif- penglihatanku diblokir: seperti ada semacam kode yang harus diterjemahkan untuk bisa melihat atau menerima masukan dalam bentuk apapun dari luar. Untungnya, aku masih bisa menerima perintah darimu. Suara Ak kembali berdengung di helm Sam. Apapun itu, bukan tindakan bijak untuk mencobanya lagi. 
  “Setuju.” Sam memasukan bola Ak yang sudah mulai mendingin ke sakunya. Sepenasaran apapun dia, dia mulai merasa kurang enak dengan tempat itu. 
 Seperti membaca pikirannya, Ak bertanya: Sam, apa kau mempertimbangkan meninggalkan tempat ini? Itu mungkin tindakan yang paling baik untuk saat ini. 
  Sam agak ragu, sebelum menjawab Ak. “Kita pergi nanti, Ak. Kita lihat dulu ada apa dengan fasilitas ini.” 
 Dengan pernyataan itu keluar dari mulutnya, Sam melangkah melewati lorong itu, menahan diri untuk tak menoleh ke belakang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis

Bab 6

Bab 7