Bab 2
Sejak Sam bisa mengingatnya, dia dan ayahnya selalu bepergian. Mau bagaimana lagi, ayahnya seorang ilmuwan hebat, dan banyak orang yang butuh bantuannya. Walau bagus, dan Sam paham kalau ayahnya butuh bekerja untuk menenangkan diri, dia kadang berharap mereka bisa tinggal di suatu tempat sedikit lebih lama. Pergi meninggalkan teman-teman barunya setiap beberapa bulan tak terlalu menyenangkan.
Sam sempat merasa harapannya akan terwujud sebelumnya. Dia dan ayahnya tinggal lama di padang pasir Mur. Tempat tandus, panas, dan tak bertepi, tapi hidup bersama para pengembara dan pemulung di sana lebih dari cukup untuk mewarnai masa-masa tinggalnya disana.
Sementara ayahnya kesulitan mencoba menghubungkan sistem irigasi dari kota nun jauh di sana, Sam dan Ak diajak melihat gunung-gunung sampah mesin bersama seorang pemulung tua. Ayahnya sedang bingung tentang meyakinkan pemerintah pusat untuk meluangkan waktu dan uang mereka ke kota kecil yang jauh dimana-mana? Makin bagus lagi, dia bisa menghabiskan berjam-jam di kota kecil itu, mendengarkan cerita para pengembara yang berkunjung. Anak-anak disana juga menyenangkan, dan harapan Sam kalau mereka bisa tinggal seperti akan terwujud.
Sayangnya, disaat semuanya terasa sudah berjalan sesuai keinginan Sam, datang undangan terkutuk dari kota IrAu. Sam hanya mendengar selentingan dari para kelana soal kota bawah laut itu sebelumnya, tapi dewan kota di sana mendengar pencapaian ayahnya dan berharap dia bisa meningkatkan sistem sirkulasi udara- atau apalah, tak penting. Satu-satunya hal yang penting sekarang bagi Sam adalah, mereka harus pergi. Lagi.
Bah.
***
Meski Sam agak enggan untuk datang, dia harus akui kalau paling tidak pelabuhannya mengesankan. Ditengah gelapnya dasar lautan, lampu-lampu sorot memancar dari sana-sini, memantul di badan kapal selam dan robot besar yang bekerja di sana. Bangunan-bangunannya tampak berbeda dari apapun yang pernah dia lihat di darat, hitam kelam dan kaku. Sementara mesin apapun di bawah kapal selamnya menurunkan barang bawaan mereka lewat jalur anti-air langsung ke entah-kemana; Sam menatap ke sekitar, bingung dengan keramaian ini. Mereka kemana sekarang?
“Astaga, ini jauh lebih besar dari yang pernah kita kerjakan.” Ayah ikut memandang ke sekitar, agak berteriak untuk mengatasi keramaian. “Bagaimana, Sam? Begitu kita sampai di tempat kering, kita bangunkan Ak dan kau bisa jalan-jalan! Atau-” Perhatian ayahnya teralihkan oleh sesuatu. Dia mematung dan meletakan tangannya ke helm miliknya, kemudian tiba-tiba mengangguk.
“Eh, ya-kami baru sampai, bagaimana- oh, begitu. Ya, kami agak kesulitan- Apa? Tak usah, jangan repot-repot- ah, baiklah.”
“Eh, Yah?” Sam mengetuk-ngetuk lengan ayahnya, khawatir dia sudah gila berkat tekanan pekerjaan atau keracunan air laut. Mungkin gabungan kedua-duanya. Sam takkan mau ayahnya dirawat di rumah sakit jiwa sementara dia hidup berdua dengan Ak; dia akan mati kebosanan di minggu pertama.
“Helm ini luar biasa sekali.” Kata ayahnya, mengetukkan jarinya ke helm miliknya. “Aku ingin tahu apa kita bisa bertemu pembuatnya nanti. Ayo, Sam, kita masuk ke dalam. Barang kita akan dikirim ke sana.”
Ayahnya segera menyeret Sam melewati keriuhan pelabuhan. Langkahnya mantap dan pasti menuju ke salah satu bangunan di tengah.
“Maksud ayah, helm itu bicara dengan ayah?” Langkah kecil Sam terantuk-antuk mengikuti, sementara dia mengetukan jarinya ke lensa. Sepatu botnya beradu dengan semen hitam yang menjadi lantai pelabuhan.
“Helm itu bisa dipakai untuk menelepon, Sam, astaga. ” Ayahnya berhenti dan menunggu sebuah mesin besar lewat terlebih dahulu. “Dan dia memberikan arahan kemana kita pergi; ada penanda lokasi di layar helmku saat ini. Aku yakin itu bukan satu-satunya fungsinya, nanti. Oh, berhenti mengetuk-ngetuk lensanya; rusak, nanti.”
Ayah Sam langsung berjalan begitu ada ruang kosong, menyeret Sam yang bersungut-sungut dan penasaran tentang helm-helm bawah laut ini. Di luar untuk bernapas dan melihat, helmnya masih sama bergunanya dengan robot tanpa mesin saat ini. Atau sama bergunanya dengan dia. Itu juga bagus.
Sudah ada orang yang menunggu mereka di depan bangunan itu. Sesosok manusia, dengan perlengkapan sama seperti mereka. Bedanya, helmnya putih bersih dan jas-air-hitam-apalahnya ditambahkan dengan motif perak di ujung lengannya, juga di punggungnya.
“Nah, nah, nah!” Orang itu segera mendatangi mereka dengan langkah-langkahnya yang cepat, menjabat tangan ayahnya. “Senang kau bisa datang bersama kami, Pak Ri’. Tak ada masalah selama perjalanan, kan?”
“Tidak, tidak, tidak; pelayanan Anda luar biasa, terima kasih.” Orang asing itu mengangguk mendengar jawaban ayahnya, kemudian menoleh ke arah Sam. “Dan ini anakmu, kuduga?”
Ayahnya mengangguk. “Sam, ini Iv. Dia salah satu dewan kota utama nanti.” Sam mengangguk. Walau dia tak terlalu suka dengan orang ini, mengingat dia yang mengundang ayahnya ke sini; Iv tampak cukup menyenangkan.
“Oh ya, bagaimana dengan barang-barang kami? Dimana mereka sekarang?” Ayah berkata, mengedarkan pandangan.
“Ak juga bagaimana?” Sam bertanya, memandang ke arah ayahnya.
“Semua ada di dalam.” Iv menunjuk ke bangunan di belakang. Pintunya tampak bergetar aneh, seperti airnya tertahan sesuatu. “Di dalam kita bisa bernafas normal lagi -dengan udara, maksudku.”
Iv melangkah masuk ke dalam. Ayahnya mengikuti, tubuhnya bergetar aneh. Begitu masuk ke dalam, yang terlihat hanya siluet yang beriak-riak. Sam mengamati sekitar, kemudian perlahan-lahan memasuki pintu itu. Begitu kakinya melangkah ke dalam, tubuhnya mendadak limbung: di dalam sudah berupa ruang udara. Sam terhuyung ke depan, sebelum tangan tak terlihat memegangnya.
“Tahan.” Suara Iv terdengar di telinganya. “Kau butuh waktu untuk beradaptasi.”
Sam menegakan tubuh, kembali membuka mata. Ruangannya terlihat kurang-lebih sama seperti kabin kapal normal, hanya saja jauh lebih luas. Dinding baja, dengan meja dan kursi yang dilas ke lantai dan dinding agar tak bergoyang jika diterpa badai. Ini mungkin semacam ruang tunggunya.
Di depannya, ayah Sam tampak berpegangan pada salah satu tiang. “Oke, Sam?”
Sam mengangguk. Dia menatap sarung tangannya. Seluruh pakaiannya langsung kering begitu memasuki ruangan ini. Dia melihat ke pintu. Hanya ada dinding air gelap yang beriak. Sekali-sekali, semburat cahaya menembus dinding itu, masuk ke ruangan.
“Oh ya, maaf soal itu.” Iv muncul, menarik tuas di samping pintu-air itu. Pintu baja segera berderit menutup dari samping, menghalangi pandangan Sam ke pelabuhan di luar.
“Nah, barang-barang kalian sudah disini.” Iv berkata lagi, menunjuk ke pojok ruangan. Sekelompok tangan mekanik tampak menata koper dan tas-tas besar milik mereka dari apa yang tampak seperti rel bagasi seperti yang ada di bandara. Mereka meletakkannya di salah satu troli besar dengan presisi.
“Efisien sekali.” Ayah Sam mengomentari.
“Yah, ini yang terbaik yang bisa kami lakukan saat ini. Untung pipanya tak sedang bocor sekarang. Bisa parah itu.”
“Pipa bocor?” Ayah menoleh, suaranya terdengar khawatir.
“Sering terjadi. Tekanannya parah dibawah sini, dan air asam di luar tak banyak membantu; pipa separo remuk takkan bertahan lama dari asam itu.”
“Tapi bukannya di air di luar beracun semua? Berarti-”
“Ya, satu-dua tetes masuk ke dalam, takkan seru akibatnya. Itu sebabnya kami memanggilmu. Kalau kau bisa membuat pipanya tahan remuk- atau lebih baik lagi, menemukan cara untuk membersihkan air terkutuk itu. Aku tak mau seluruh pipa di kota dilapisi baja, boros sekali-”
Bosan, Sam berdiri. Dia bergerak menuju ke barang-barang mereka yang sudah tersusun rapi di kereta dorong. Mengabaikan dering protes dari para tangan mekanik, dia membongkar barang bawaan mereka. Tas demi tas dia buka, hingga menemukan sepotong chip perak di dasar suatu koper.
“Ayah.” Sam bergerak menghampiri ayahnya, sementara tangan mekanik terpaksa merapikan segala kekacauan yang dia buat di belakang. “Ak akan kita apakan sekarang?”
“Oh ya.” Ayahnya menoleh ke Iv. “Kalau tak salah, aku sudah beritahu kalau kami butuh-”
“Ah, yang itu. Jangan khawatir.” Iv melambaikan tangan. Sebuah tangan mekanik baru muncul dari atas, membawakan sebuah bola keperakan. Iv mengambil bola itu, menoleh ke arah Sam. “Coba kau kemarikan inti pikirannya.”
Sam berkedip bimbang, sebelum menyerahkan chip yang dia pegang. Iv mengambil dan mengutak-atik keduanya. Si bola keperakan bergetar dan mengeluarkan denting lembut, sebelum mengudara, membuka lensanya yang kebiruan.
Adaptasi… Pengenalan kontrol badan baru… 100% Suara yang familiar bagi Sam terdengar. Lensanya melompat dari benda ke benda. Analisa situasi sekitar- Halo, Ri’; Halo, Sam. Halo, (Data tak diketahui). Pencarian lokasi- Error, tak ada jaringan terbuka. Ri’, kita dimana?
Sebelum ayah menjawab, Iv berdiri terlebih dahulu. “Unit Asisten Kelana; kau sekarang berada di kota IrAu. Untuk informasi lebih lanjut, kau dipersilahkan mengakses jaringan data yang tersedia. Kau seharusnya mendapat semua informasi yang kau butuhkan.”
Perintah dalam proses. Si robot bergetar. Terhubung. Salam kenal, tuan Iv.
Ini Ak, kepanjangan Asisten Kelana. (Ya, Sam maupun ayahnya terlalu malas memikirkan nama untuknya. Dasar.) Sejak pertama kali dibuat ayah Sam, Ak menemani mereka dalam banyak bentuk. Saat terbetik kabar kalau mereka akan ke bawah laut; dan tubuh Ak yang waktu itu tak memadai, mereka memutuskan untuk membawanya dalam wujud inti pikirannya saja.
"Jadi, kurasa sudah semua, kan?" Iv beranjak ke ujung ruangan. Sebuah elevator berdenting terbuka. "Lebih baik kalian segera masuk ke rumah kalian. Ak seharusnya tahu jalan, datanya sudah masuk."
Ak mendesing, melayang masuk ke elevator. Sam dan ayahnya segera menyusul.
"Besok, kalian tak perlu melakukan apapun dulu. Pelajari kota IrAu dulu; ada banyak hal yang mungkin menarik. Lusa, Ri', tolong segera datang ke lab, akan ada penanda lokasi di helmmu. Semua jelas?"
Ayah Sam mengangguk.
"Sampai jumpa, kalau begitu." Pintu berdenting menutup, sebelum elevator beranjak turun.
Belum sempat Sam membuka mulut, elevator kembali melambat. Rasanya mereka baru masuk saat pintunya kembali berdenting terbuka.
Pemandangan lorong besar yang memanjang dari ujung ke ujung menyambut mereka. Dindingnya sepenuhnya kelabu-baja, dengan atap kaca, menunjukan laut hitam di atas. Beberapa pintu tahan air berdiri di ujung lorong, lengkap dengan papan hologram bertuliskan KESELAMATAN ANDA PRIORITAS KAMI: SELALU INGAT SETELAN BAWAH AIR ANDA dengan gambar figur mengenakan setelan itu mengacungkan jempol di sampingnya. Beberapa pajangan berdiri di tengah, memamerkan koral aneh yang berkilau dalam gelap dalam tabung, atau kristal besar yang Sam tak pernah lihat sebelumnya; semua lengkap dengan plakat penjelasan di bawahnya.
Ada sedikit robot pembersih di sana, melakukan tugas mereka tanpa peduli pada mereka. Beberapa orang lain juga lalu lalang, satu-dua dengan robot seperti Ak mengikuti mereka. Tapi, sama seperti robot pembersih, mereka mengabaikan Sam dan ayahnya, mata mereka terpaku ke layar hologram di tangan mereka, atau sibuk dengan percakapan di telepon genggam.
“Orang-orang disini ramah sekali.” Sam menggumam. Di sampingnya, Ak bergetar, memandang Sam dengan lensanya. Aku mendeteksi sarkasme.
“Astaga Sam; jangan banyak bertingkah. Kau akan senang tinggal di kota ini, pasti.” Ayah mengomel, entah bagaimana tak terganggu. “Mungkin semua orang di sini sibuk; mereka butuh banyak tenaga untuk membangun tempat ini, kau tahu.”
Hipotesis: warga sipil belum didatangkan. Ak mengajukan pendapat, menutupi suara dengusan Sam. Kota masih belum memenuhi standar keamanan yang dibutuhkan. Walau aku tak punya akses ke data setiap penduduk kota; kemungkinan yang ada disini hanya datang untuk kepentingan membantu pembangunan.
“Belum memenuhi standar keamanan? Pantas, pipa-pipa tadi tak terdengar ramah-penduduk.”
“Kenapa sih mereka ingin sekali membuat kota di bawah laut?” Sam menyela. “Maksudnya; unik, memang, wow. Tapi kelihatannya mereka mengundang lebih banyak masalah saat pembuatannya."
Ak bergetar. Lensanya tiba-tiba menyorotkan hologram kota, lengkap dengan embel-embel KOTA SEJAHTERA UNTUK MASA-MASA KELAM! di atasnya. Sepertinya semacam pengiklanan. Kalau iya, payah sekali departemen pemasarannya. Mana ada yang terkesan dengan kalimat begitu?
Proyek kota RiAu dimulai oleh Iv dan rekan dewan kota lainnya, Ak membacakan deskripsi proyeknya, dengan nada paling datar dan membosankan yang pernah umat manusia manapun dengar, sebagai upaya pembuatan rumah yang aman bagi generasi manusia ke depan. Melihat kondisi daratan yang semakin memburuk, maka rencana ini akan dan sedang diinisiasikan di dasar laut terdalam yang belum tersentuh sebelum ini. Umat manusia akan bertahan, dan akan kembali naik ke puncak pada masanya. Ak berhenti, dan berkata dengan suara normalnya (yang, kalau boleh jujur, tak terlalu lebih baik juga).
Semoga itu menjawab pertanyaanmu, Sam. Ada pertanyaan lagi?
Ayah bertepuk tangan dengan antusias, sementara Sam memutarkan bola matanya. Untungnya, lensa di helmnya tak mampu mengikuti gerakan pupilnya saat ini, sehingga baik ayah dan Ak tak sadar.
“Luar biasa.” Ayahnya mengusap mata terharu, seperti menatap putranya meraih prestasi luar biasa. (Yang Sam tahu betul; karena dia memang anak berbakat dengan banyak prestasi. Terima kasih banyak.) “Aku ingat sekali saat pertama kali membuatmu; kau bahkan tak bisa memecahkan satu tambah satu waktu itu. Dan sekarang-” ayahnya membungkuk terisak, sementara Sam menepuk-nepuk punggung ayahnya.
Terima kasih. Ak menjawab anggun. Sekarang maukah kau mendengar prestasi terhebatku berikutnya: kurasa kita salah jalan?
“Hah?” Ayah kembali berdiri tegak, melihat ke sekitar. Di depan mereka, gerbang hitam besar berdiri, penuh dengan ukiran hijau menyala. Percikan listrik sekali-sekali menyambar.
Aku tak punya data apapun soal tempat ini. Yang jelas, tujuan kita bukan ke sini.
"Berarti- kita kemana sekarang?" Sam bertanya.
Ikuti aku dan harap jangan pergi sendiri. Ak melayang pergi. Ayah segera melangkah mengikutinya. Melihat pintu itu untuk yang terakhir kali, Sam berbalik, menyusul rombongannya.
***
Sisa hari berjalan dengan lancar. Ak menuntun mereka ke kabin tanpa insiden. Bentuknya bulat dan terpisah dari kota utama, bersama kabin-kabin lain. Mereka terhubung ke kota utama dengan lorong-lorong panjang.
Sementara ayahnya mendengarkan penjelasan dari Ak tentang cara mengutak-atik kubah kaca di atas, Sam mulai meletakan helm dan segala peralatan bawah airnya ke tempatnya. Mereka punya tempat untuk mengeringkan, membersihkan, dan memastikan semua setelan bawah airnya prima.
Sam memandang ke Ak. Dia kurang suka dengan Ak yang terhubung dengan data kota ini. Walaupun bukan makhluk yang paling seru untuk diajak bicara; paling tidak sebelum ini robot ini lebih dari sekedar pemandu kota mereka. Sisi baiknya, ayah dan Ak tampak senang di sini. Mungkin setelah Ak selesai menjelaskan semua sistem kota, dia akan kembali jadi normal. Semoga.
Komentar
Posting Komentar