Bab 1
Sam tak pernah menyangka akan pernah pergi ke bawah laut, tapi disinilah dia berada sekarang. Kantong plastik yang luntur termakan umur melayang-layang seperti hantu di sekitar mereka, sementara mereka turun semakin dalam ke kegelapan.
"Bagaimana pendapatmu?" Ayah berkata, menoleh ke belakang. Sam mengetukan jari ke jendela "Ini lebih muram daripada yang kusangka."
Ayah tertawa kecil. "Asal ingat saja, kau dinamakan dari tempat ini, Samudra. "
Sam. Samudra. Tentu saja. Dulu, dia sering ditertawakan karena namanya. Siapa yang menamai anaknya Samudra? Tak efisien. Aneh.
"Kenapa aku dinamai dari tempat ini?" Sam
melambaikan tangan ke jendela kapsul. Di bawah sana, gunung-gunung dari sampah tinggi menjulang. Kelabang raksasa merayap di sekitarnya, mencari hewan-hewan kecil yang bersarang di dalam. "Kau mau aku berakhir seperti ini?"
"Ha, ha" Ayah tertawa muram. "Tidak, tidak. Tempat ini tak selalu begini, tahu." Ayah mengangkat bahu. "Atau, setidaknya, itu yang ibumu bilang. Dia selalu ingin pergi ke sini. "
Keheningan menyelimuti kapal, hanya dipecahkan oleh desing monoton mesin. Sekali-sekali, ikan berukuran besar menampakan diri, tapi segera kabur melihat kapal selam mereka.
Panel depan tiba-tiba mendengung. Kemudi kapal bergetar hebat dan bergerak sendiri.
Sistem mendeteksi tujuan dalam radius 15 kilometer. Kendali otomatis diaktifkan. Suara speaker bergaung di seluruh ruang kendali.
"Siap-siap." Ayah berdiri, menggapai sesuatu di atas. Kapal selam melesat dalam kecepatan penuh, membuat sampah-sampah kelabu tampak kabur dari kaca kemudi.
Penumpang yang terhormat, pelabuhan berada 10 kilometer lagi. Demi keselamatan, kenyamanan, dan keamanan anda; harap segera siapkan perlengkapan anda.
"Dapat!" Di depan, ayah mengambil setumpuk sesuatu yang terlihat seperti setelan jas hujan aneh, lengkap dengan sepatu bot dan sarung tangannya. Sementara itu, dua helm bawah laut dengan model tua turun dari panel atas. Sam menyambar salah satu dan mengamatinya. Bentuknya bulat, terbuat dari baja kekuningan. Di depannya, terdapat lensa kamera yang balas menatap Sam.
"Astaga." Sam menatap ke helm itu. Besinya terpoles kekuningan memantulkan cahaya lampu kabin. "Apa kita tak punya helm yang lain? Ini seperti sudah berumur jutaan tahun, tahu."
Penumpang yang terhormat, suara speaker kembali bergaung sebelum ayahnya sempat membalas, sistem mendeteksi radiasi tinggi dalam area pendaratan. Penumpang diharapkan segera mengenakan perlengkapan bawah laut untuk memungkinkan pernafasan dan penglihatan di bawah sana. Jika tidak memakainya, semua manusia akan mengalami kesulitan bernafas, penyakit kulit, ditambah dengan tekanan laut yang akan menyebabkan kematian yang sangat, sangat menyakitkan. Barangkali akan lebih baik untuk memakai helm berumur jutaan tahun yang tersedia, terima kasih.
Sam menoleh ke ayahnya yang menahan tawa. "Benda ini bisa mendengar kita, ya?"
Ayah segera memakai seluruh setelan, termasuk helmnya, menutup mukanya seluruhnya. "Segera pakai ini sebelum kita kena omel." Suaranya bergetar statis, seperti baru melewati serangkaian alat elektronik. "Aku tak mau kita ditendang keluar detik pertama kita sampai."
Sam segera menggapai pakaian bawah air yang aneh itu. Rasanya licin dan aneh, tak mirip sama sekali dengan jas hujan.
Pastikan tak ada lapisan kulit yang terekspos. Si kapal selam memperingatkan saat Sam memakai sarung tangannya, mengikat pergelangan tangan. Satu tetes air laut kena kulitmu, efeknya lebih parah dibanding asam kelas menengah. Walau rumah sakit kami memiliki pelayanan terbaik, kami berharap kau tak menghabiskan hari pertamamu di sana.
"Baik, baik- astaga, jangan khawatir; aku tak seceroboh itu." Begitu semuanya tertutup sepenuhnya kecuali kepala, Sam meraih helmnya. Berat. Begitu dia meletakkannya di kepala, semuanya gelap, rasanya seperti menekan matanya, membuat Sam memejamkan matanya. Sebuah desisan kecil mekanik terdengar dari sisi kanan.
"Nah, seharusnya sudah bekerja sekarang- Sam? Sam, coba buka mata sekarang, kita lihat apa besi tua ini sudah bekerja atau belum." Suara ayahnya menembus masuk.
Sam membuka mata. Ratusan warna dan bentuk segera menyerbu masuk matanya, jernih seperti kristal. Semuanya terlihat jauh lebih terfokus dibanding normalnya. Rasanya seperti matanya selama ini cacat, dan dia baru memakai kacamata untuk pertama kali.
"Ini…wow." Sam menggerakan tangan menyapu dinding kapal selam. "Bagaimana-? "
Lensa helm milikmu adalah salah satu ciptaan kami yang terbaik untuk saat ini, Sam. Si kapal selam menjawab. Kami berniat untuk melampaui batas penglihatan manusia, mulai dari ini. Seharusnya kau bisa melihat bahkan di laut terdalam sekarang. Bagaimana pendapatmu?
"Luar biasa." Ayah Sam menjawab terlebih dahulu. "Kapan kita akan sampai?"
Sebentar lagi, tuan. Radar mendeteksi lokasi berada satu kilometer di depan.
Dinding bergetar hebat. Sam merasakan lantainya bergeser sementara kapal selam menukik turun ke kedalaman. Pemandangan di jendela beralih jadi semakin hitam. Satu-dua kali, kapal selam lain terlihat menyelam bersama mereka.
Seratus meter. Penumpang, persiapkan diri untuk turun.
Cahaya hijau menyeruak menembus gelap bawah laut dari sebuah menara tinggi menjulang, terpantul oleh gelembung-gelembung yang berkilau. Ratusan kapal selam, serupa dengan yang mereka naiki, terlihat mengambang turun. Robot-robot berkeliaran di bawah, mengarahkan lampu pandu ke kapal-kapal, mengangkat barang bawaan. Ribuan orang dengan setelan bawah laut seperti dirinya lalu lalang, memenuhi pelabuhan di bawahnya. Suasananya jauh lebih riuh-rendah dibandingkan yang dia sangka.
Kapal melambat, pelan-pelan mengambang turun ke bawah. Kerikil dan ganggang terpental keluar. Pelan-pelan, kapal mereka mengeluarkan kaki penyangganya, bergetar pelan saat mendarat dengan sempurna di dasar.
Selamat datang, si kapal selam bergetar, membuka sebuah pintu tahan air, memberikan jalan keluar, di FirAun
Komentar
Posting Komentar