Postingan

Bab 2

Sejak Sam bisa mengingatnya, dia dan ayahnya selalu bepergian. Mau bagaimana lagi, ayahnya seorang ilmuwan hebat, dan banyak orang yang butuh bantuannya. Walau bagus, dan Sam paham kalau ayahnya butuh bekerja untuk menenangkan diri, dia kadang berharap mereka bisa tinggal di suatu tempat sedikit lebih lama. Pergi meninggalkan teman-teman barunya setiap beberapa bulan tak terlalu menyenangkan.   Sam sempat merasa harapannya akan terwujud sebelumnya. Dia dan ayahnya tinggal lama di padang pasir Mur. Tempat tandus, panas, dan tak bertepi, tapi hidup bersama para pengembara dan pemulung di sana lebih dari cukup untuk mewarnai masa-masa tinggalnya disana.   Sementara ayahnya kesulitan mencoba menghubungkan sistem irigasi dari kota nun jauh di sana, Sam dan Ak diajak melihat gunung-gunung sampah mesin bersama seorang pemulung tua. Ayahnya sedang bingung tentang meyakinkan pemerintah pusat untuk meluangkan waktu dan uang mereka ke kota kecil yang jauh dimana-mana? Makin bag...

Bab 1

Sam tak pernah menyangka akan pernah pergi ke bawah laut, tapi disinilah dia berada sekarang. Kantong plastik yang luntur termakan umur melayang-layang seperti hantu di sekitar mereka, sementara mereka turun semakin dalam ke kegelapan.   "Bagaimana pendapatmu?" Ayah berkata, menoleh ke belakang.  Sam mengetukan jari ke jendela "Ini lebih muram daripada yang kusangka."   Ayah tertawa kecil. "Asal ingat saja, kau dinamakan dari tempat ini, Samudra. "   Sam. Samudra. Tentu saja. Dulu, dia sering ditertawakan karena namanya. Siapa yang menamai anaknya Samudra? Tak efisien. Aneh.   "Kenapa aku dinamai dari tempat ini?" Sam    melambaikan tangan ke jendela kapsul. Di bawah sana, gunung-gunung dari sampah tinggi menjulang. Kelabang raksasa merayap di sekitarnya, mencari hewan-hewan kecil yang bersarang di dalam. "Kau mau aku berakhir seperti ini?"   "Ha, ha" Ayah tertawa muram. "Tidak, tidak. Tempat ini tak selalu begini, ta...